Tilik Piknik

Tilik Piknik

“Kau tahu, aku sudah sering memberitahumu, bahwa rasa sayangku padamu bukanlah rasa sayang yang lemah. Karenanya aku pun tanggap terhadap kesalahan-kesalahanmu. Menjadi kewajibanku untuk memberitahukannya kepadamu dan merupakan kewajibanmu serta kepentinganmu untuk bisa memperbaikinya,” tulis Philip Stanhope dalam surat untuk anak lelakinya. “Kesalahan-kesalahanmu, terima kasih Tuhan, bukanlah kekurangan yang janggal. Aku cuma menemukan kemalasan, kurangnya perhatian, dan ketidakpedulian. Hal-hal yang semestinya hanya berlaku bagi orang-orang lanjut usia, yang kehidupannya sudah menurun, secara fisik maupun semangatnya. Lalu membuat mereka memiliki semacam keinginan kuat untuk memperoleh ketenangan lewat ‘piknik’.” 

Demikianlah kata ‘piknik” pertama kali muncul. Melalui “Letters to His Son” (1746-1747). Di sini, Lord Chesterfield, julukan kebangsawanan dari Philip Stanhope menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada kenyamanan yang diperoleh dalam bentuk istirahat dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, yang biasanya dilaksanakan dengan berkumpul dan makan bersama di luar ruangan. 

Semenjak itu, piknik, diyakini berasal dari Bahasa Perancis “pique-nique”, semakin populer disebut dan dilakukan. Hanya saja, piknik di abad itu seringkali merupakan acara yang rumit, didominasi kaum bangsawan dengan gelaran hidangan mewah. Piknik mulai berkembang menjadi kegiatan yang lebih rileks saat abad 19, di mana orang-orang dari semua strata sosial menyukainya.  Membentangkan kain lebar atau tikar di atas rumput beserta teman atau kerabat, berbagi makanan, bersenda gurau menghirup hawa segar, menikmati kicau burung dan sinar matahari. Piknik menjadi kegiatan sederhana namun teramat menyenangkan. 

Setelahnya, piknik juga bertambah masyhur pada banyak tulisan sebagai tema yang digemari dalam sastra. Digambarkan selaku pertemuan santai berbalut harmonisasi alam. Beberapa penulis mengungkap esensi piknik ini dengan ragam keindahan, ketakjuban dan rasa nostalgia bermandi mentari serta dinaungi rindangnya pepohonan. 

Baca juga:  Menimbun Vitamin D - Sepuluh Tempat Piknik di Vancouver

Salah satu penggambaran piknik paling ikonik ada di novel bertajuk “Emma” karya Jane Austin, di mana seluruh karakter bergerombol untuk piknik di Box Hill. Selain dipenuhi keceriaan, adegan tersebut diliputi ketegangan dan intrik sosial. 

Lain lagi dalam karya Henry David Thoreau berjudul “Walden”, yang merefleksikan kesederhanaan piknik di alam terbuka. “I had three chairs in my house; one for solitude, two for friendship, three for society.” – Saya punya tiga bangku di rumah; bangku kesatu untuk kesendirian, bangku kedua untuk persahabatan, bangku ketiga untuk masyarakat. 

Sementara novelis Charles Dickens, pemilik cerita fenomenal Christmas Carol, menulis karakter bernama Pip yang berpiknik bersama Estella, dalam karyanya “Great Expectations”. Tulisnya, “We dined on the best of the cold meats and drank the best of the wine. Here was a charming sociabilitu, and even a sort of light-heartedness.”

Photo by Rachel Claire

Back to Top