Tentang

Cerita seputar Indonesia di Kanada

Barangkali tidak semua pertanyaan berjodoh dengan jawaban.

Bahkan, barangkali, yang kita sebut sebagai jawaban pun seringkali hanya sebuah halte persinggahan, sampai kita melanjutkan perjalanan dan bertemu halte-halte berikutnya, yang juga sementara saja.

Pada setiap halte selalu ada hal-hal yang menarik.

Ada yang sama sekali baru. Ada yang bukan baru namun sedikit berbeda dari halte sebelumnya.

Ada yang nyaris serupa. Juga tak sedikit pula yang sama.

Karenanya, perjalanan itu selalu saja menarik.

Menawarkan sebuah proses menemukan yang melekat padanya.

Proses yang tak senantiasa mudah. Namun yang pasti, selalu indah.

Apalagi karena setiap peristiwa menyertakan pengalaman uniknya masing-masing.

Kita tidak dianugerahi kepala yang bisa berputar 360 derajat semau kita.

Ada pendapat bahwa itu berarti diperlukan kerendah-hatian utk menerima informasi dari orang yang berdiri tepat di hadapan kita mengenai sesuatu yg terjadi di belakang kita saat itu juga atau waktu sebelumnya.

Ada pula yang mengartikan tak perlu menengok masa lalu.

Seperti juga bulan yang diam dalam keanggunannya.

Sisi bulan yang dapat dilihat dari bumi adalah sisi yang selalu sama.

Mengapa? Entah.

Mungkin agar manusia selalu membutuhkan misteri dalam hidupnya, lalu menerbitkan keingintahuan tak berjeda.

Barangkali melakukan perjalanan secara fisik menjelajah dunia, sejatinya adalah melakukan perjalanan ke pusat diri sendiri yang inti. Sebab manusia adalah replika kecil semesta.

Maka selayaknya memahami semesta adalah untuk semakin mengenal kedirian.

Dan pada detik yang sama mengenal kedirian, barangkali kedirian itu tak ada. Sama sekali.

Barangkali, pernah mengada pun tidak.

Kerinduan pengembaraan adalah pengejawantahan kerinduan tak terelakkan menuju siapa diri sendiri.

Jalan pengelana adalah pengalaman, bukan penjelasan.

Perlawatan, bukan pemaparan.

Melihat serombongan semut beriring bisa membuat seseorang menjadi lahir kembali.

Menyaksikan tupai yang dengan gerak lucunya menyeberang jalan sambil membawa biji kenari dalam gengaman mungilnya, seperti mengajarkan cara agar memiliki kemampuan bertahan.

Kini sedang berada di sini.

Negeri empat musim menjadi halte saat ini.

Menghimpun semua yang terserak dan bukan fiksi.

Kisah tentang apapun.

Cerita tentang siapapun.

Merangkum anasir-anasir semesta.

Bagai daun-daun yang bebas menghirup serta menyerap peristiwa.

Maka penjelajahan ini mengalami penguraian.

Terpampang dalam bingkai selembar daun.

Daun Maple.

Kembali