Selera Nusantara Tokoh Bangsa ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Selera Nusantara Tokoh Bangsa ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Riset dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, memaparkan bahwa Indonesia memiliki, setidaknya, 6000 makanan khas dari seluruh pelosok negeri. Dari angka tersebut, belum diketahui jelas, berapa persen yang sudah masuk dalam kategori masyhur. Tetapi, barangkali, yang belum dikenal malah prosentasenya jauh lebih besar.

Singgang Ayam, misalnya. Tampilannya serupa Opor Ayam namun terasa lebih asam karena dibubuhi tomat dan asam gelugur. Masakan ranah Melayu yang jarang terdengar ini adalah favorit Bung Hatta. Menurut Suyatmi Surip, juru masak keluarga sejak tahun 1947 sampai Bung Hatta wafat, makanan kegemaran lainnya adalah Sambel Goreng Buncis, Tumis Kangkung, Sayur Bening Bayam, Gulai Rebung serta, tentu saja, Rendang dan Soto Padang, makanan daerah asal Bung Hatta. Ia juga menuturkan bahwa makanan terkadang menjadi sarana keromantisan, karena Bung Hatta pernah membawakan roti isi bikinan sendiri untuk istrinya di dalam kamar bersalin, ketika Ibu Rahmi Hatta tengah bersiap melahirkan Meutia Hatta, putri pertama mereka.

Lain halnya dengan Soekarno. Presiden pertama Indonesia sekaligus proklamator kemerdekaan dan sahabat karib Bung Hatta. Sayur Lodeh, Rawon, Sayur Asem, Sambel Terasi dan Nasi Jagung merupakan kegemarannya. Menurutnya, Nasi Jagung sebagai makanan pokok orang Madura, melambangkan kerja keras petani dan bukti bahwa Indonesia adalah negara agraris. Sajian lainnya adalah Pais Ikan yang sering disantap Bung Karno selama menjalani pengasingan di Bengkulu. Adapun restoran Cahaya Kota yang ber-genre peranakan dan telah berdiri sejak tahun 1940-an serta berlokasi di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, menjadi langganan Bung Karno saat menjabat sebagai Presiden dari tahun 1945-1967. Bakmi Goreng dan Ayam Goreng Mentega adalah menu pilihannya.

Photo by Haryo Setyadi on Unsplash
Sayur Lodeh – Foto: Pinky Brotodiningrat

Bagi Haji Agus Salim, salah satu dari sembilan perumus Pembukaan UUD 45, anggota dewan Volksraad, diplomat ulung yang melalui ketangkasan berdiplomasinya maka negara ini mendapat pengakuan internasional pertama bagi berdirinya Republik Indonesia dan Menteri Luar Negeri era revolusi yang lihai bercakap 9 bahasa asing tersebut, otak-otak ikan adalah kesukaannya. Namun tokoh sarat kesederhanaan itu seringkali hanya makan Nasi Goreng Kecap dalam kesehariannya. Salah satu cerita menarik darinya adalah tatkala Haji Agus Salim menghisap rokok kretek klobot dalam suatu kesempatan perundingan di kancah internasional. Rokok kretek klobot adalah rokok tradisional warisan turun temurun dari leluhur. Sejumput tembakau digulung menggunakan kulit jagung, dinyalakan dan dihisap penuh kenikmatan. Aroma bakar tembakau bercampur kulit jagung tersebut tak pelak menguar ke mana-mana, membuat para delegasi negara lain, utamanya dari Eropa, โ€œmenegurโ€ Haji Agus Salim. Dengan tenang dan penuh percaya diri, ia balik bertanya, โ€œMengapa aroma ini membuat anda sekalian gusar? Bukankah aroma inilah yang menjadi sebab 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa anda mengarungi samudera mendatangi negeri kami?โ€. Sebuah jawaban menohok.

Dalam tradisi dan adat istiadat Nusantara, makanan merupakan salah satu elemen yang tidak bisa diabaikan. Tak hanya pelengkap acara, makanan yang terhidang juga berfungsi sebagai simbol dengan makna tertentu dan penghantar rasa syukur kepada Sang Empunya Kehidupan.

Lantas, bagaimana cara Bung Karno meluapkan kegembiraan seusai menyatakan kemerdekaan Indonesia?  

Sehari setelahnya, yaitu tanggal 18 Agustus 1945, Bung Karno dan sejawatnya duduk di pinggir jalan memesan 50 tusuk Sate Ayam dan melahapnya untuk berbuka puasa.  

Dirgahayu Indonesia!

Cover Photo by Akharis Ahmad on Unsplash

Kembali