Petualangan Menghadirkan Petualangan

Petualangan Menghadirkan Petualangan

Orang bilang nonton kembang api seru karena tampilan visualnya menakjubkan. Warna-warna cerah gemerlapan beriringan beberapa kali dentuman untuk kemudian menjelma pola dan beragam bentuk berlatar belakang pekat malam menjadikannya pertunjukan yang teramat menarik. 

Namun lebih dari itu, peristiwa menyaksikan parade kembang api pada acara Honda Celebration of Lights di bulan Juli 2023 lalu ternyata menerbitkan juga sebuah ide bagi Dito dan Feby. Sebuah ide yang timbul begitu saja. Sebuah ide untuk mendatangkan film Petualangan Sherina 2 ke Vancouver. 

“Dari banyak berita yang kami baca, kami tahu bahwa film Petualangan Sherina 2 akan rilis di bulan September 2023. Waktu itu, sambil liat kembang api, tiba-tiba aja di tengah-tengah obrolan, muncul keinginan untuk movie screening film Petualangan Sherina 2 di sini.” ujar Feby. Omongan, yang semula iseng belaka di seputaran English Bay berubah ditindaklanjuti serius oleh keduanya. Perlahan sekaligus pasti. “Kami lantas berbagi tugas. Mas Dito ngurusin hal-hal teknis dan aku fokus di bagian non teknis.”

“Pertama kali yang aku lakukan adalah mengontak Matthew Riyanto, Presiden PERMAI BC (Persatuan Masyarakat Indonesia – British Columbia) dan menawarkan supaya kegiatan ini berlangsung dalam lingkup PERMAI BC. Matthew serta merta setuju dan mendukung sepenuhnya karena memang sejak PERMAI BC berdiri di tahun 1995, belum pernah ndatengin film Indonesia untuk diputar di sini. Jadi ini pertama kalinya PERMAI BC ngadain movie screening film Indonesia dengan mendatangkannya langsung dari Indonesia dan bukan karena film Indonesia itu ikut Festival Film di sini, “ jelas Dito. Setelah Matthew setuju, aku menghubungi Mas Riri Riza sebagai sutradara. Mas Riri menyambut baik dan kami diminta bikin proposal ke Miles Films. “Matthew bersedia membantu secara aktif mencari sponsor dan aku usul Cinemai sebagai nama kegiatan ini. Singkatan dari Cinema Day with Permai BC, “ imbuh Feby. 

Menghadirkan Sherina dan Sadam, meskipun “hanya” berupa film, tentu saja tidak mudah juga tidak murah. Di sinilah petualangan di luar layar lebar dimulai. “Kami menyebar angket ke masyarakat Indonesia di British Columbia agar punya gambaran, kira-kira, seberapa antusiasme mereka untuk datang nonton film ini. Hasilnya ada, kurang lebih, 500 orang. Dari situ kami bergerak mencari tempat penayangan yang bisa menampung sekaligus, sebisa mungkin, mengakomodasi keinginan dari ‘calon penonton’ yang minta pemutaran filmnya di hari Sabtu, Minggu, dan Senin setelah jam kerja. Didapatlah VIFF (Vancouver International Film Festival) Centre, RIO Theatre dan di SFU Djavad Mowafaghian Cinema.” 

Perbedaan waktu 15 jam, pada masa musim dingin, antara Vancouver – Jakarta ikut serta mewarnai perjalanan ini. “Mesti pintar menata dan menangani waktu dengan tepat. Antara waktu meeting dan negosiasi ke teman-teman di Miles Films, waktu untuk promosi di media sosial, selain juga menyediakan waktu khusus belajar shipping karena film dikirimkan dalam bentuk Hard Disk. Betul-betul banyak sekali pembelajarannya. Learning by doing. Trial and error. Utamanya perkara teknis,“ Dito menguraikan. 

“Sedari awal, idenya untuk mendatangkan film itu, memang, kami menginginkan kualitasnya standar bioskop. Apalagi karena filmnya juga baru rilis beberapa bulan sebelumnya, jadi inginnya menghadirkan pengalaman layar lebar yang maksimal. Maka dari itu, filmnya pun datang dengan format standar bioskop, yaitu DCP dan filenya dibawa ke Canada  dalam bentuk external Hard Disk. Data filmnya dilindungi dengan password, yang disebut KDM yang berbeda untuk masing-masing tempat pemutaran film. Ini untuk melindungi filmnya dari pembajakan. Semua proses dipastikan sesuai standar pemutaran dan keamanan yang berlaku untuk pemutaran film di layar lebar. Adapun password itu hanya bisa berlaku satu minggu, dihitung dari saat screening test sampai pada hari tayang. Setelah seminggu, meskipun bentuk fisik Hard Disk masih ada di sini, tidak akan bisa dibuka lagi. Kami melakukan uji coba penayangan ke tiga tempat yang sudah disewa, antara lima sampai tujuh hari sebelum tayang. Waktu benar-benar kami perhitungkan saksama. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain supaya screening test berlangsung lancar. Sempat tergopoh-gopoh mengambil Hard Disk dari RIO Theatre agar Hard Disk itu tiba di tangan petugas teknis SFU Cinema tepat jam 9 pagi sehingga screening test di situ dapat dilakukan di sore harinya. Ada scene kalang kabut juga di shipping karena terjadi miskomunikasi dengan jasa pengiriman. Beda waktu yang belasan jam membuat penyelesaian permasalahan komunikasi jadi sedikit tersendat. Bikin super deg-degan. Kurir juga sempat salah alamat ketika mengantar Hard Disk itu ke alamat kami. Seru! Ha-ha-ha.”

Baca juga:  Pada Sebuah Siang, Pada Sebuah Kedai Ramen

Situasi hampir sama pun dialami Feby yang bergerak dalam hal-hal non-teknis. Salah satunya, menjaring sukarelawan. “Selain survei, kami menyebarkan pula pendaftaran untuk volunteering buat bantu-bantu kami di hari-H. Kami sepakat bahwa para volunter mestilah mereka yang memiliki kecakapan berbahasa Indonesia yang baik sehingga atmosfer dan suasana yang tercipta nanti akan sangat Indonesia. Tak disangka-sangka, ternyata tidak gampang mengumpulkan mahasiswa/i Indonesia di sini yang fasih berbahasa Indonesia. Temuan yang menarik!” ungkap Feby. Jadilah Feby berkutat menyeleksi daftar sukarelawan secara ketat demi menghidupkan nuansa Indonesia nantinya. “Untuk di VIFF, kami bikin mini Pudjasera, yaitu bazar makanan-makanan Indonesia. Ada Bakso, Nasi Rames, Ayam Geprek, Kue Lapis Legit, Pastel, Kue Lidah Kucing, Risoles, Teh Indonesia, dan lainnya. Oya, hal unik lainnya adalah para volunter itu, kebanyakan, lahir setelah film Petualangan Sherina 1 dirilis!” 

Kenangan, apabila dikisahkan kembali bisa jadi sebuah percakapan panjang. Demikian yang terjadi selama tiga hariberturut-turut tanggal 16, 17, 18 Desember 2023. Hingar bingar nostalgia menyeruak penuh-penuh tak terelakkan. Suara-suara benak terdalam bersanding dengan suara-suara layar lebar. Kalimat-kalimat memori, serpihan-serpihan cerita, deras mengalir pada hari-hari pertunjukan. “Film Petualangan Sherina 1 itu film pertama yang gue tonton. Gue masih SD waktu itu. Sekarang gue nonton lanjutannya, di benua lain, bawa anak gue!” “Aku seneng tapi jadi agak sedih nonton film ini karena dulu aku nonton sama Ibu aku yang sekarang udah nggak ada” “Gue dulu nggak kesampaian nonton filmnya yang pertama di Bioskop, sekarang seneng banget bisa nonton yang kedua di Bioskop, di luar negeri lagi!” Di sudut-sudut, sekelompok penonton bahkan mengabadikan kebersamaan sembari berdendang gembira menyanyikan lagu-lagu yang sudah melegenda dari film Petualangan Sherina. Semuanya merasa punya jalinan kuat, bukan hanya selintas, dengan Sherina dan Sadam. 

“Memang begitu yang kami mau. Menghidupkan lagi memori baik agar hidup tak melulu muram dan serius setelah pandemi, “ kata Feby tersenyum. 

Lalu lintas iring-iringan kedatangan Sherina dan Sadam beserta Sayu ke Vancouver melewati jalan berbelok-belok, bergelombang, dan tak luput dari kemacetan, meski sesaat. Namun riuh-rendah setelahnya melampaui tiga hari. Berjejak di ingatan paling awal hingga entah sampai kapan. 

Menjura!

*Terima Kasih khusus kepada @surrey_mitsubishi @walininorthamerica @indomieca @vaffvancouver @indonesiainvancouver

Back to Top