Njlungup, Tikusruk, Tatungkuik, Tukkap, Tasarudup atau Nyonglet?

Njlungup, Tikusruk, Tatungkuik, Tukkap, Tasarudup atau Nyonglet?

Jatuh tak melulu soal cinta. Di dunia bisnis, bisa berarti bangkrut. Untuk urusan karir atau mata uang, artinya merosot. Di keseharian, kata jatuh di Indonesia memang memiliki banyak nama lain, tergantung situasi dan kondisi yang melingkupi peristiwanya. Apabila ditambah dengan keragaman bahasa daerah, maka keadaan ‘jatuh’ bisa menjadi lebih spektakuler.

Dalam Bahasa Indonesia, paling tidak ada 4 kata untuk memaparkan seseorang yang  jatuh ke depan, yaitu tersuruk, terjerembab, tersungkur, terjungkal. Dalam bahasa Jawa, jatuh ke depan disebut njungkel atau kejungkel. Namanya akan berganti lagi sesuai ‘proses pendaratan’.

Apabila jatuh dengan bagian kepala mendarat lebih dulu, disebut njlungup, ndlungup, kejlungup. Orang Sunda menjulukinya dengan tikusruk. Orang Minang menamainya tatungkuik atau tasungkua. Orang Batak menyebutnya tukkap.  Orang Banjar bilang tasarudup, tajuramba atau tasarungkan dan orang Madura memiliki nyonglet, tabrengka, dan tajrungkep.

Bagi yang memilih gaya jatuh dengan berlabuh di bagian muka, ada ndlosor, kerungkeb (Jawa) dan kejongor (Jawa) untuk pendaratan menggunakan hidung.

Perihal jatuh ke belakang, bahasa baku Indonesia menawarkan terjengkang, mirip dengan bahasa Banjar: tejungkang. Ada juga agentang, tagentang (Madura); takongkang (Minang); tigeledak, ngajengkang, tijungkel, ngajungkel (Sunda); nggeblak, kejengkang, njengkang, kejeblak, nggledhak (Jawa); magulang (Batak).

Untuk kasus jatuh ke dalam air yang biasa disebut tercebur (bahasa Indonesia), ada nyemplung dan kecemplung (Jawa) serta tacabur (Banjar). Jatuh ke dalam lubang dinamakan terperosok (bahasa Indonesia) atau keblowok  dan kejeglong (Jawa) serta tigebrus (Sunda). Jatuh ke dalam lumpur diucapkan tacarbuk dalam bahasa Madura dan tacalubuk (Banjar).

Orang Jawa memiliki pula kata ciblok, jiblok, jiglok, logor untuk sesuatu yang jatuh dari atas, misalnya buah-buahan yang jatuh dari pohon. Ada juga gogrok (Jawa) yang berarti rontok dan biasa dipakai untuk menyebut rambut, daun atau bahkan ketombe sebagai subyeknya. Ambrol (Jawa) untuk mendeskripsikan sesuatu yang runtuh karena kelebihan beban, semisal atap rumah atau panggung. Namun dalam perkembangannya, kadangkala ambrol ataupun gogrok digunakan juga untuk mengilustrasikan suasana hati yang luluh lantak berkeping-keping akibat putus cinta agar dramatis.

Baca juga:  Berjumpa Marc, Gerry, Patrick dan Baggy

Indonesia memang selalu semarak. Mulai dari warna pakaian adat, jenis sambel sampai bahasa. Cukup satu kata saja untuk mengisahkan jatuh dengan subyek berbeda dan gaya tertentu.

Rasanya seru juga membayangkan seorang anak kecil yang terlahir dari keluarga yang campur-baur. Saat ia berlari-lari kecil, niscaya akan diiringi dengan pesan agar berhati-hati sehingga tidak singgalap, tasialia, tijalikeuh, ngglewang, tapakpak atau taguiling.

Jatuh memang bukan milik cinta semata. Meskipun demikian, khazanah bahasa daerah di Nusantara tetap menyediakan kata khusus untuk menggambarkan fall in love with people we can’t have, yaitu…ndlogok!

Kembali