Nama-Nama Terlarang

Nama-Nama Terlarang

Xiamen, 2001

Gadis berdiri ketika gurunya menunjuknya untuk membacakan kalimat yang dibuatnya. Ia berdiri lalu dengan lantang mengatakan, 

我是中国人 wo shi zhong guo ren. Saya warga negara China.”

Profesor Xia tertawa tipis lalu mengoreksinya, “ Bukan. Kamu bukan orang China. Kamu orang Indonesia.”

Gadis menatap Profesor Xia dengan tatapan putus asa. Kenapa semua orang baik di Indonesia maupun di China memperlakukannya seperti bola ping-pong?

Tetangga-tetangga kompleksnya meledeknya dengan kata, “Cina … cina … cina …” Tapi ia tak punya nama Chinese. Sekarang di China, ia mengatakan ia orang China, ditertawakan juga.

Wo bu ming bai. Saya tidak mengerti. “  Gadis tak tahan lagi, dengan patah-patah ia menjelaskan kegamangannya, “Zai Yin ni, tamen shuo wo shi zhong guo ren. Bu shi yin ni ren. Za Zhong guo, nimen shuo wo shi yinni ren, bu shi zhong guo ren. Who shi shui?”

(Di Indonesia, kata mereka, saya orang China bukan orang Indonesia. Di China kalian bilang saya orang Indonesia bukan orang China. Sebenarnya saya ini orang apa?” Saya siapa?”)

Professor Xia tergugu. Tidak biasanya ada mahasiswa baru berani bertanya, pertanyaan soal identitas pula. Namun ia tahu sejarah Indonesia Chinese. 10 tahun mengajar anak-anak Indonesia membuatnya paham.

Ni shi Yinni hua ren. Kamu orang Indonesia Chinese. Yinni shi ni de guojia. Hua ren shi ni de jiazu. Indonesia itu negaramu, Chinese itu sukumu,” Profesor Xia menjawab dengan tegas.

Gadis termangu. Bisakah ia menjadi keduanya? 100% Indonesia dan 100% Chinese. Bisakah nama Chinesenya menjadi nama Indonesia seperti nama Batak? Di China ia memberi dirinya sendiri nama Chinese. Lin Hu Die. Forest Butterfly. Akankah nama itu diakui sejajar dengan nama Indonesianya?

***

“Laoshiiii!!!” suara melengking suara anak perempuan menariknya kembali.

“Udah kelar Laoshi!!” Beberapa muridnya sibuk melambaikan hasil diskusi mereka.

“Yang sudah selesai tulis di papan tulis,” Beberapa anak dengan gesit maju ke depan dan mulai menulis nama-nama beserta nama Chinesenya.

林 lin = Halim, Salim, Liman.

李 Li = Lisman,

蔡 Cai = Cahyo, Cahyadi

曹 Cao = Cokro

郭 Guo = Kusumo, Kumala

吴 Wu = Gondo, Gunawan, Gozali, Utama.

施 Shi = Sidharta, Sidarto

苏 Su = Soekotjo, Suhadi, Suganda,

郑 Zheng = Sutedja, Tedjo, Tedjakusumo.

Ia menatap tulisan murid-muridnya. Goretan-goretan hanzi berpadu dengan nama-nama ala Indonesia. Ia menyaksikan murid-muridnya memakai simbol = Sama dengan. Tapi ia tahu kedua nama itu tidak sama, tidak sejajar. Mungkin simbol yang lebih pas adalah < Lebih kecil.

林 < Halim.

Karena jika bobotnya sama, seharusnya nama di sebelah kanan tak perlu ada. Simanjuntak tak perlu berganti menjadi Suparman kan? Ah, ia ingin berbaik sangka, itu semata-mata karena daftar sebelah kiri lebih sulit dibaca daripada huruf latin dalam marga Oomnya.

Begitu mungkin ya? Anggap saja seperti itu. Karena kemungkinan yang lain, terlalu menyakitkan untuk diungkit maupun dibuka.

***

Bel akhir pelajaran berbunyi. Ia sedang membereskan bukunya ketika seorang murid wanita berdiri malu-malu di ujung meja.

“Ya?” tanyanya sambil menatap dari balik kacamata.

Laoshi, makasih, aku baru tahu nama marga papaku apa,”

Bu yong xie. Terima kasih kembali.”

Baca juga:  Bumi Dipijak, Bahasa Indonesia Dijaga

Laoshi … “ muridnya sibuk memilin ujung roknya, &quot;Saya ga punya nama Chinese.”

Senyumnya mengembang. Ia merasa melihat dirinya yang dulu, “Mau saya bikinin?”

Mata sipit itu membulat membesar, “Bisa Laoshi?”

“Saya buatkan beberapa nanti kamu tanya Papa Mama kamu mau yang mana.”

Buru-buru muridnya mengangguk dengan antusias, “Boleh Laoshi, boleh!”

Women shi Yinni hua ren. Yinni shi women de guo jia. Hua ren shi women de jia zu,” mulutnya membeo mengikuti kalimat Professor Xia.

“Kita orang Chinese Indonesia. Negara kita Indonesia, Suku kita Chinese. Dua-duanya akar kita. Sama pentingnya. Sama bobotnya.”

Di mata negara mungkin selamanya, simbol untuk dirinya dan namanya adalah < dan tak akan pernah menjadi =. Tapi kini ia tahu ia siapa. Persetan apa kata negara.

我们是印尼华人。 印尼是我们的国家,华人是我们的家族。

“Women shi Yinni hua ren. Yinni shi women de guo jia. Hua ren shi women de jia zu,”

Sesosok pria dengan kepala setengah botak menunggu di depan pintu.

“Pak Dediiiii ….” Anthony memanggil pria itu dengan setengah berteriak. Pria itu menaikkan satu alisnya.

“Pak, kenapa tahun 1967 ada perpu yang menyuruh WNI keturunan Chinese ganti nama? Kenapa WNI keturunan Belanda, Arab, India ga perlu??” Teriak Anthony.

“Ga adil, Pak!” Tambah teman sebangku Anthony.

“Emank salah kita apa?!” Tanya si Gondrong.

Wajah pria itu sedikit memucat menerima berondongan pertanyaan dari para remaja tanggung.

Ketika ia berpapasan dengan pria itu, Pak Dedi berbisik, “Laoshi, jangan ngajarin yang aneh-aneh donk!”

Tubuhnya menegang. Ia memutar langkahnya, menatap Pak Dedi dengan tajam, “Saya tidak mengajarkan yang aneh-aneh, Pak. Ini fakta sejarah.”

“Tapi tidak ada di kurikulum, Laoshi!”

“Mungkin ini waktunya dimasukkan, Pak.” jawabnya tenang.

“Tapi …”

“Anak-anak ini harus tahu. Selamat siang, Pak Dedi.” Ia memutar kembali tubuhnya dan meninggalkan Pak Dedi.

Anak-anaknya harus tahu. Sejarah hitam bangsa mereka. Anak-anak harus tahu, akar mereka. Bukan untuk mewariskan luka dan kebencian, tapi supaya mereka bisa menemukan dirinya, akarnya dan berdiri tegak di negeri ini.

Tanpa akar yang dalam, takkan ada pohon yang bisa berdiri tegak.

我们是印尼华人。 印尼是我们的国家,华人是我们的家族。

“Women shi Yinni hua ren. Yinni shi women de guo jia. Hua ren shi women de jia zu,”

Singapore, 29 Oktober 2020

*Pertama kali dimuat di https://www.wattpad.com/myworks/248598000/write/984657455

**Daftar marga Chinese dan versi Indonesianya diambil dari Wikipedia.

Tentang penulis: A wound opener. Grace Suryani Halim, BA, percaya bahwa luka bukan untuk diwariskan atau disembunyikan, namun untuk dibuka dan disembuhkan. Ia menulis khusus untuk membuka luka. Tokoh-tokoh utama cerpen dan novelnya adalah para Chindo, Chinese Indonesian, baik yang di Indonesia maupun para diaspora. Para Chindo yang berusaha mencari jati diri, akar, sering terombang-ambing di antara dua dunia dan juga ketegangan hubungan antara Chinese-minded generasi tua dengan Western-educated generasi muda. Dalam tulisannya ia suka memasukkan chengyu (Chinese idioms), sejarah China, sastra China (The Romance of Three Kingdoms, Lu Xun, dll),maupun kebiasaan khas para Chindo. Selain menulis, Grace adalah homeschooling mother dengan 3 anak dan saat ini tinggal di Singapura dengan keluarganya. Bisa dihubungi di grace.suryani@gmail.com atau IG: @gracesuryani.

Cover Photo: https://unsplash.com/photos/g4z85Zc-ZqI

Back to Top