Nama-Nama Terlarang

Nama-Nama Terlarang

Desember 1996

Plak. Suara koran dibanting. Gadis melihat Oom suami Tante keenam dan Si Oom suami tante kedelapan berbicara dengan nada rendah.

“Sudah jelas sasaran mereka siapa!” Wajah pria-pria dewasa itu nampak gelisah.

“Keadaan genting.”

Mereka terus berdiskusi dengan mengucapkan kata-kata yang tak begitu Gadis pahami. Situbondo. Kerusuhan. Bakar-bakaran. Sambil berjingkat ia mengintip koran di atas meja. Nampak sebuah foto menghiasi halaman pertama. Foto toko-toko yang tutup, ada tulisan pilox di atasnya. 100% Pribumi!!!  Di toko sebelahnya Milik Pribumi Muslim

Pribumi? Muslim? Apapula maksudnya? Apa itu nama suku baru? Seperti Jawa, Minang, Bugis? Siapa yang jadi sasaran? Gadis penasaran tapi ia tak berani bertanya.

“Non, kamu ngapain di situ?” Suara Oom suami tante pertama mengejutkannya.

“Baca koran, Oom.”

“Bagus, baca koran ya biar pintar.” Oom duduk di sebelahnya sambil memakan kuaci, “Kalau ga pinter nanti kamu susah gedenya. Kamu itu Cina, Kalau ga pinter gimana mau masuk Universitas Negeri?”

“Aku bukan Cina!” Protesnya keras, “Kata Mama aku orang Indonesia!”

Oom menggeleng-gelengkan kepalanya, “Sipit koyo ngono kok ngaku-ngaku Indo, Kamu bukan Pribumi! Kita itu Chinese.”

“Tapi aku ga punya nama Chinese!” Gadis itu bersikukuh. Namanya hanya satu, Sita Kusuma Wijaya. Kurang Indonesia apalagi? “Aku orang Jawa!” Ya Gadis fasih berhitung dalam bahasa Jawa, siji loro telu papat limo. Wes mangan? Wes adus?

Oom itu menggeleng kepala lalu berteriak ke arah keluarga besar yang sedang asyik menonton TV, “Iki lohhh… Nonik ngaku-ngaku wong Jowo.” Tawa kembali meledak. Tante keempat berkata, Kita itu Jacinda. Jawa, Cino, Belanda.”

Semua kembali tergelak. Hanya Gadis yang terus bertanya, aku ini sebenarnya orang apa?

Baca juga:  Kehidupan sebagai Anak Indonesia di Kanada

***

2000

“Loe jadi daftar jurusan apa Mar?”  Gadis duduk berempat di kantin dengan sahabat-sahabatnya. Sari akan ke Amerika jurusan akuntansi, ulangannya selalu 100, pengalaman jadi bendahara 3 tahun. Cocok memang. Jane memilih Psikologi, paling enak curhat dengan sahabatnya yang ini. Grace masuk hukum di Trisakti.

“Sastra Cina,” ujar Gadis mantap.

“Blurrrpp …” Grace menyemburkan minumannya. Sari melonggo. Jane memukul bahunya, “MABOK LOE?!?”

Gadis melap tangannya yang terkena semburan minuman Grace, “Mang kenapa?”

“Eh gilingan bakmie … Loe mana bisa ambil Sastra Cina?!?! Ngomong zende ma aja kagak bisa,” Sari tertawa terbahak-bahak. Sari Cina totok asli 100%. Fasih bahasa Mandarin dan Hokkian.

“Ta … bukan maksud gue ga percaya sama elu yee … Tapi Ta …” Jane menepuk bahunya bak konselor yang bisa membaca suasana hati, “Gue kursus mandarin 12 tahun, kagak bisa-bisa sampe sekarang! Loe pan begimana … Guru les gue dari Beijing, dipanggil khusus sama Bokap. Tetap bebal gue.” Ia mulai mengernyit, sesusah itu kah? Jane,anak Glodok, kadar kecinaannya tak perlu diragukan. 12 tahun dan masih terbata-bata? Ia hanya punya 4 tahun.

“Ya itu mah elu. Pokoknya gue ambil Sastra Cina.” Gadis tak ambil pusing dengan guyonan sahabat-sahabatnya. 

Rencana ke China disambut hangat oleh keluarga besar. Ia diajak suwun ke seluruh tetua keluarga. Tante-tantenya memperkenalkannya dengan bangga, “Ini loh, Nonik mau ke cung kuok belajar bahasa Mandarin.” Semua tetua menepuk bahunya dengan bangga. Ada tatapan penuh makna di mata mereka seolah mereka ingin berkata, Akhirnya ada keturunan kami kembali menginjak tanah leluhur.

***


Halaman Selanjutnya

Xiamen, 2001 – Gadis berdiri ketika gurunya menunjuknya untuk membacakan kalimat yang dibuatnya…


Back to Top