Nama-Nama Terlarang

Nama-Nama Terlarang

2007

Perempuan muda itu berdiri di depan kelas dengan segepok potongan koran di tangannya.

“Bagi kelompok 4 orang,” perintahnya. Suara kursi-kursi digeser disertai gumaman sana-sini.

“Hari ini belajar apa, Laoshi?” tanya seorang murid pria dengan suara bass-nya, wajahnya penuh jerawat dan rambutnya sedikit gondrong. Kemejanya nampak menyembul keluar dari celana panjang abu-abu yang dikenakannya.

Perempuan yang dipanggil Laoshi belum menjawab, tangannya sibuk membagikan potongan koran ke tiap kelompok.

“Wihhh!! Iklan orang mati!!” Teriak seorang murid begitu melihat potongan kertas yang dibagikan. Dalam sekejap muncul suara bisikan di kanan kiri. Selesai dari baris paling belakang ia kembali ke depan. Tanpa menghiraukan bisikan yang makin gaduh, ia menulis sebuah karakter di papan tulis. 姓。Ketika ia membalikkan badan menghadap murid-muridnya, ia mendapati mata seisi kelas menatapnya lekat-lekat.

Xing, marga. Ini materi kita hari ini. Marga orang Chinese diturunkan dari siapa?” Dari balik kacamatanya, ia menyapukan pandangan ke seluruh kelas.

“Papa! Bapak! Pihak Co!” Jawaban bersahut-sahutan terdengar. Laoshi mengangguk.

“Kalau begitu kenapa untuk karakter Xing, bushou atau radikalnya menggunakan kata 女 nv yang berarti perempuan? Kenapa tidak pakai 亻ren yang biasa dipakai untuk laki-laki?”

Kali ini seisi kelas hening. Bahkan si Gondrong yang biasa meracau tak jelas, memandang ke depan dengan penasaran.

“Saat ini marga itu patrilineal. Tapi awalnya, masyarakat Chinese itu Matrilineal. Alasannya sederhana. Zaman dulu bisa ga tau bapaknya siapa, tapi pasti tahu ibunya siapa.” Suara tawa riuh rendah memenuhi ruangan kelas.

Perempuan itu melanjutkan penjelasannya, “Tahun 1967, 2 tahun setelah G30SPKI, ada peraturan pemerintah yang menghimbau,” Ia membuat tanda kutip dengan kedua jarinya, “Menghimbau dalam tanda kutip, supaya para WNI keturunan Chinese mengganti nama mereka dengan nama Indonesia.”

Ia mengambil kertas dari sakunya, lalu mulai membaca dengan lantang

”Pasal 5 Keppres 240/1967 berbunyi “Khusus terhadap Warga Negara Indonesia Keturunan Asing jang masih memakai nama Cina diandjurkan mengganti nama- namanja dengan nama Indonesia sesuai dengan ketentuan jang berlaku.”

Matanya menyapu wajah-wajah muda yang tak pernah paham pahitnya kata komunis, yang bahkan tak pernah merasa bulu kuduk mereka berdiri setiap mendengar kata Mei 98.

“Bagi orang Tionghoa, marga tak hanya nama tapi juga ikatan kekerabatan. Mereka memutar otak dan cara lalu membuat Marga versi Indonesia. Ya, Anthony?” Ia melihat ke arah seorang muridnya yang berkacamata dan duduk di depan. Sedari tadi Anthony sibuk melambaikan tangannya.

“WNI keturunan Asing kan ga cuman keturunan Chinese, Laoshi! Ada WNI Keturunan Belanda, Arab, India. Semua harus ganti nama Indonesia juga kan?”

Ia terpana mendengar pertanyaan Anthony. Semua harus ganti nama Indonesia juga kan? Ia tak tahu harus tertawa atau menangis melihat keluguan muridnya. Tapi yang muncul justru rasa iri. Iri melihat di wajah polos yang belum tercemar diskriminasi. Iri melihat pertanyaan yang muncul dari rasa percaya bahwa di mata hukum mereka semua setara. Ya kan? Sayang ia tidak bisa iri lama-lama, 40 pasang mata memandang menunggu jawabannya.

“Menurut kamu? Saya bacakan lagi. Khusus terhadap WNI keturunan Asing yang masih memakai nama Cina dianjurkan mengganti nama-namanya dengan nama Indonesia.” Tuturnya balik bertanya.

Anthony membuka mulut, namun kalah cepat dengan si Gondrong yang langsung berteriak, “Goblok! Ini khusus buat kita WNI keturunan Chinese tahuuu!!! WNI keturunan lain mah bebas!!” Nadanya tinggi penuh emosi.

Baca juga:  Melihat Indonesia dari Kanada Edisi COVID-19

“Kok gitu sih, Laoshi!” Anthony protes.

Cepat-cepat ia mengangkat tangan menghentikan debat yang hampir dimulai.

“Ini sejarahnya panjang,” ia terkejut mendengar suaranya sendiri yang bergetar. Cepat-cepat ia menelan ludah, “Kalian tanya Pak Dedi saja, guru sejarah. Okay kembali, tugas kalian hari ini, temukan sebanyak mungkin varian marga versi Indonesia dari beberapa marga orang Tionghoa,” ia melirik jam tangannya, “Waktu kalian 20 menit dari sekarang.”

Suara-suara kursi kembali digeser dan diskusi mulai berlangsung. Orbituari berisi nama-nama almarhum dengan anggota keluarga mereka, terserak di atas meja-meja. Huruf-huruf hanzi berpadu dengan nama-nama Indonesia.

“WONG!! Marga gue nih! Tuh Wongso.”

“Ini paling gampang. Lim, jadi Halim, Salim … ada lagi ga?”

“Nama bokap loe kan? Tanuwidjadja, marga tan, she tan loe!”  Kikik seorang gadis menyenggol temannya.

“Baru tau gue, Ongko dari Huang.”

Ia berjalan berkeliling melewati meja murid-muridnya sambil tersenyum.

***

Desember 1990

“Nama Mama Kim Lan atau Ratna?” Gadis kecil menggaruk kepalanya kebingungan. Ia mendengar emak, engkong dan tante-tantenya selalu memanggil Mamanya dengan sebutan Kim Lan. Tapi kenapa mamanya menulis nama lain ketika menandatangani nilai ulangannya. Di buku raport tertulis nama orang tuanya Ratna. Kim Lan itu siapa?

“Kim Lan itu nama Chinese. Ratna nama Indonesia,” ujar mamanya sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya, “Makan.”

“Nama Chineseku apa?” Tanya si gadis sambil sibuk mengunyah makanannya.

“Ga ada.”

“Kenapa ga ada?”

“Kamu orang Indonesia,” jawab mamanya singkat.

“Mama bukan orang Indonesia??” Kening gadis itu berkerut.

“Stt … tembok bisa bicara, “ gumam mamanya pelan. Mulut mamanya terkatup rapat, berondongan pertanyaan tak mempan menembus barikade bibir yang tertutup.

Dalam sekejap si Gadis mengamati bahwa semua orang di keluarga besarnya punya dua nama. Tante kelimanya, Iin sekaligus Martha. Tante keduanya Hwa alias Debora. Tante kesepuluhnya, Uun sekaligus Ruth. Oom kesembilan Sun alias Sunoto.

Hanya satu orang yang berbeda. Oom, suami tante ketiga.

“Oom Sophar nama Chinesenya apa?” Ia bertanya kepada suami tante ketiga yang tinggi besar. Sesaat denting sendok garpu di seluruh ruangan terhenti. Segenap keluarga besar mematung, semua senyap memandang pria berkulit gelap dan berambut ikal, seolah was-was mendengar apa jawabnya. Namun pria itu tertawa terbahak-bahak, 

“Hei … kau pikir tulang-mu ini Chinese ha?” Perutnya yang buncit tergoncang. Tawa lega memenuhi ruangan.

“Oom ga punya nama Chinese?” Gadis masih penasaran. Di tangannya ada kertas HVS berisi daftar nama Chinese dan nama Indonesia seluruh keluarga besarnya.

“Oom orang Batak!” Ada nada bangga dalam suara pria itu.

“Nama Batak Oom apa?” Kejarnya lagi.

Pria itu membuka kacamatanya, menyeka airmatanya yang keluar saking asyiknya ia tertawa, “Monang.” Ia mengambil kertas lalu menulis nama lengkapnya. Tak hanya itu, ia mengambil dompet, mengeluarkan KTP nya dan menunjukkannya.

Gadis ternganga, “Wah.” Tapi dahinya berkrenyit. Kenapa ia tidak melihat ada nama Chinese mamanya di KTP mamanya?

“Nama Batak bisa ditulis bareng dengan nama Indonesia?” Tanyanya penasaran.

“Iya!”

“Lalu kenapa nama Chinese tidak sama dengan nama Indonesia?”

Senyum itu lenyap. Pria besar itu menepuk kepalanya dengan lembut, “Nanti Oom cerita kalau kau sudah besar ya. Belajar yang rajin.” Oom Sophar beranjak meninggalkan gadis yang masih penasaran.

***


Halaman Selanjutnya

Desember 1996 – Plak. Suara koran dibanting. Gadis melihat Oom suami Tante keenam…


Back to Top