Mengurai Penat di Titik Tertinggi – Bloedel Conservatory

Mengurai Penat di Titik Tertinggi – Bloedel Conservatory

Pada tahun 1966, ketika Canada bersiap merayakan Centennial-nya, dua pria di Vancouver sedang mengentaskan visi besar mereka. Stuart Lefeaux, Pengawas Dewan Taman dan Rekreasi Vancouver beserta Wakilnya, Bill Livingston, mencanangkan sebuah proyek melalui Dewan Taman. Proyek besar yang akan menjadi kebanggaan kota Vancouver dan memberi sesuatu yang benar-benar berbeda bagi warganya.

Mereka membayangkan adanya sebuah Konservatori untuk tanaman dan burung-burung eksotis di pusat geografis kota dan terletak pada titik tertinggi. Sebuah tempat edukasi sekaligus menarik untuk dikunjungi.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara membiayai pembangunan Konservatori tersebut? Stuart dan Bill meyakini pasti ada dermawan yang ingin namanya tersemat dalam proyek luar biasa ini. Mereka lalu menghubungi Prentice Bloedel, pendiri Macmillan Bloedel Lumber Company. Seorang visioner, guru yang idealis dan perintis di bidang daur ulang serta pemerhati keterkaitan antara manusia dan lingkungan. Ia setuju!

The Bloedel Foundation menggelontorkan hampir $ 1.4 juta dolar. Angka yang fantastis. Setara dengan $10.5 juta dolar saat ini. Kontribusi itu digabung bersama dana kas Kota Vancouver serta Dewan Taman dan Rekreasi Vancouver untuk mewujudkan Bloedel Conservatory. Memperindahnya dengan air mancur dan plaza sekitarnya. Sebuah hadiah termegah yang pernah diterima warga Vancouver.

Konservatori dibangun menggunakan kerangka kubah triodetic yang sepenuhnya diproduksi di Ottawa. Menempuh 3000 mil melintasi negeri sebelum akhirnya tiba di Queen Elizabeth Park. Begitu sampai, kerangka struktural langsung didirikan dan hanya membutuhkan waktu 10 hari saja! Grand Opening berlangsung pada tanggal 6 Desember 1969. Melalui strategi jitu Charles Coupar, direktur pertama Bloedel Conservatory, lebih dari 500.000 orang tertarik mendatangi tempat ini di tahun pertamanya. 

Bloedel Conservatory adalah konservatori berkubah terbesar kedua di dunia. Berdiameter 43 m dan tinggi 21 m di bagian tengah, desain ini memungkinkan ruang besar untuk direntang tanpa perlu tiang-tiang penyangga. Tiga iklim dipertahankan di dalamnya; iklim rainforest tropis, iklim hutan subtropis dan iklim gurun demi kenyamanan sekitar 150 ekor burung beragam jenis di dalamnya.

Sebagian besar ahli bersepakat bahwa otak manusia bereaksi terhadap suara-suara di sekelilingnya. Terutama kebisingan. Bunyi klakson mobil yang keras, misalnya, dapat segera menstimulasi otak untuk kemudian meminta tubuh agar merespon cepat sehingga terhindar dari bahaya. 

Hiruk-pikuk keseharian yang nyaris tanpa henti seperti bunyi notifikasi pada smartphone, alarm jam,  deru kendaraan dan hingar-bingar lainnya menjadikan otak kita terus-menerus “bersikap waspada”. Akibatnya, kemampuan berkonsentrasi menurun dan gampang dilanda cemas.

Suara burung yang bercicit-cuit merupakan salah satu penawarnya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa melodi manis nyanyian burung-burung yang riang gembira adalah indikasi bahwa lingkungan seputarnya aman. Maka mendengarkannya dapat mengirimkan sinyal ke otak manusia tentang perasaan aman. Perasaan aman ini pada akhirnya dapat mengurai penat sehingga membantu berpikir lebih jernih.

Foto: Eduardus Pradipto – @ditronic

Kembali