Lawatan Menuju Intisari Kehidupan

Lawatan Menuju Intisari Kehidupan

Suatu peristiwa membanggakan terjadi tanggal 7 November 2003 ketika UNESCO secara resmi memasukkan Wayang Kulit Indonesia sebagai Karya Agung Budaya Dunia – Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Wayang Kulit memang sebuah seni pertunjukan yang teramat lekat sejak lama dalam khasanah kebudayaan Indonesia. Bahkan sudah dianggap hadir semenjak abad ke 2 Masehi.

Pada masa itu, wayang kulit, diperkirakan hanya terbuat dari rerumputan yang diikat. Dimainkan sebagai salah satu acara ritual pemujaan leluhur serta dalam berbagai upacara adat yang merupakan bagian dari kewajiban sosial, semisal usai panen padi yang melimpah ruah, kelahiran bayi atau memelihara keselamatan desa agar terhindar dari bencana alam. Memasuki periode selanjutnya, pemakaian bahan-bahan lain, seperti kulit kayu atau kulit binatang buruan mulai dikenal dalam proses pembuatannya. Namun yang bertahan hingga kini adalah wayang kulit dari kulit kerbau, kulit kambing dan kulit sapi.

Adapun inspirasi cerita, biasanya, bersumber dari kitab klasik Mahabharata, Bharatayudha, Ramayana serta Arjuna Wiwaha, yang telah dipentaskan sejak jaman Raja Airlangga memegang tampuk kekuasaan kerajaan Kahuripan, Jawa Timur, awal Abad 11.

Nukilan romansa Ramayana saat Rahwana menculik Dewi Shinta, istri Sri Rama, menjadi pilihan pementasan Wayang Kulit pada Minggu siang, 7 Juli 2019, bertempat di Museum of Anthropology, University of British Columbia, Vancouver, Canada.

Acara diawali dengan sambutan Dr. Nicola Levell, profesor dari Department of Anthropology – UBC sekaligus kurator Museum of Anthroplogy, yang meluapkan kebanggaannya mengenal Dr. Sutrisno Hartana, yang disebutnya sebagai pakar Wayang Kulit sekaligus dalang mumpuni yang dimiliki Vancouver saat ini.  

Sementara Ibu Dr. Tuti Irman, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Vancouver menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas apresiasi masyarakat Vancouver terhadap kesenian dan kebudayaan Indonesia.   

Dr. Nicola Levell
Dr. Tuti Irman

Salah satu daya tarik pagelaran wayang kulit ada pada dalang. Ia adalah sutradara, narator sekaligus konduktor bagi para pemain gamelan yang mengiringi pementasannya. Dengan duduk bersila menghadap sebuah layar putih, dalang memainkan dialog dari sejumlah karakter wayang sesuai dengan tema yang dipilihnya. Karena itu, dalang harus memiliki ketrampilan mengubah-ubah suara seperti tokoh yang dimaksud. Kadangkala bersuara perempuan yang lembut, lalu berwibawa dan karismatik saat berperan sebagai Raja atau Ksatria. Kemudian di detik berikutnya, bisa berganti dengan bunyi tawa menggelegar dan teriakan membahana ketika menjelma Raksasa atau tokoh antagonis.

Semua dilakukannya sambil terus mengendalikan keselarasan antara dongeng yang disajikan dengan bunyi nada yang dihasilkan oleh gamelan.

Pak Tris, panggilan akrabnya, tentu sangat maklum bahwa tidak semua yang hadir mengerti dan memahami bahasa Jawa tingkat tinggi yang digunakan sebagai percakapan dalam pertunjukan Wayang Kulit. Maka Pak Tris pun mendalang dengan tiga bahasa; Jawa, Indonesia dan Inggris. Usahanya tak sia-sia. Para penonton sangat menikmati alur cerita dan bahkan bisa tertawa terpingkal-pingkal.

Dalam terminologi bahasa Jawa, dalang merupakan akronim dari Ngudhal Piwulang. Ngudhal berarti menyebarluaskan, sementara Piwulang berarti ajaran. Bermakna bahwa dalang mengemban tanggung-jawab menebar benih wejangan kebaikan melalui wayang kulit.

Sejarah memang memposisikan wayang kulit sebagai media hiburan sekaligus jalan untuk memahami  diri, yang berujung kepada mengenal Sang Pemilik Kehidupan. Hakikatnya, kisah-kisah dalam tontonan  wayang kulit senantiasa bertabur petuah agar mempertahankan keadaan ideal, yaitu tentang masyarakat yang makmur, tentram, aman dan adil.

Sebuah cara santun dan cerdas menyelami eksistensi manusia. Untuk apa hadir dan dihadirkan.

Dan dengan menyaksikan pementasan wayang kulit, bagaikan melakukan lawatan menuju intisari kehidupan.

Tepukan gemuruh 150 penonton mengakhiri pagelaran yang juga diwarnai cuplikan sendratari berlakon sama oleh Sanggar Tari Sampan Bujana Sentra, Jakarta, sebelum mereka mementaskannya secara utuh  pada sore harinya. 

Pak Tris dan para Nayaka (pemain gamelan) dari komunitas Indonesia di Vancouver telah berhasil membawakan secara apik sebuah warisan budaya, yang disebut UNESCO sebagai salah satu seni pertunjukan terindah di dunia.

Artikel Terkait: Berjumpa Marc, Gerry, Patrick dan Baggy

Pemilik Foto: Pinky Brotodiningrat

Kembali