Kehidupan sebagai Anak Indonesia di Kanada

Kehidupan sebagai Anak Indonesia di Kanada

Banyak orang bercerita tentang Kanada. Ya, Kanada merupakan salah satu negara maju di dunia. Daratannya terluas di Amerika Utara. Selain hawanya sejuk juga memiliki hutan lindung yang sangat luas. Kanada pun memiliki  banyak cerita sejarah yang mengesankan jika didengar. 

Bicara soal Kanada takkan lepas dari masyarakatnya yang berasal dari berbagai belahan dunia. Penduduknya ramah, sopan dan tertib. Membuatnya sebagai salah satu negara dambaan banyak pelajar dunia untuk menimba ilmu. Level pendidikan di sini sangat bagus dan diakui dunia internasional. Lingkungannya nyaman dan aman untuk ditinggali. Pemerintah yang mendukung dalam bentuk dana, serta sekolah yang bisa memberi izin kerja part time selama 20 jam per minggu saat sekolah. Pokoknya jika bicara soal Kanada, hmm.. unspeakable.

Sudah setahun lebih lamanya saya di Vancouver. Kota ini merupakan salah satu kota  ternama yang memiliki potensi pada wisata dan kuliner di Kanada. Saya dapat ikut serta ke Kanada karena ayah saya ditugaskan di sini sebagai abdi negara. 

Awalnya saya tidak tahu dan tidak bisa membayangkan negara ini. Di manakah Kanada itu? Terlebih Vancouver yang hanya bisa saya dengar dan lihat dalam mimpi atau hanya berada di cerita ‘negeri dongeng’. Negara ini, ternyata, letaknya di belahan Utara. Hampir ujung dunia. 

Menjadi berkah dan bahagia tersendiri bagi saya ikut bersama kedua orang tua, apalagi sambil melanjutkan sekolah di sini. Di salah satu negara maju di dunia.

Ada satu pengalaman yang baru saya alami ketika tiba di Vancouver. Jetlag. Meskipun wajar namun sedikit merepotkan untuk saya, karena jam tidur saya berantakan saat itu. Penyebabnya jelas adalah perbedaan waktu. Membuat saya seringkali tidur menjelang tengah malam atau, bahkan, jam 03.00 pagi. Setelah satu bulan berlalu, saya sudah merasa sangat nyaman walau masih bergelut dengan lingkungan dan cuaca yang tidak biasa saya hadapi.

Terasa mimpi rasanya saya bisa berada di kota ini. Saya berjalan-jalan di sudut kota yang masih asing namun mengesankan. Semua tertata baik, bersih, nyaman dan aman. Beberapa kali saya juga mencoba makanan khas dari berbagai belahan dunia. Makanan Jepang, Korea, Malaysia, Timur Tengah dan Eropa. Semua jenis makanan itu baru saya cicipi seumur hidup saya. Tak kalah penting ternyata, di sini terdapat juga masakan khas daerah-daerah di Indonesia yang dimasak langsung oleh Warga Negara Indonesia yang sudah tinggal di Vancouver cukup lama.

Pengalaman lain yang mengesankan adalah ketika saya mengikuti tes untuk melanjutkan sekolah. Berkat semangat serta kemauan tinggi, akhirnya saya diterima di Windermere Secondary School, salah satu sekolah yang berlokasi di 27th Avenue. Saya diterima di sekolah ini sebagai murid kelas 11 (Grade-11).  

Hari-hari awal bersekolah, saya hanya berkenalan dengan beberapa teman saja, karena karakter saya yang pendiam. Modal bahasa Inggris saya pun pas-pasan. Hal itu menjadi penyebab sulitnya melakukan komunikasi dengan lingkungan sekitar. 

Baca juga:  Merengkuh Alam Kepunyaan Bersama

Hari-hari berikutnya, suasana semakin mencair. Satu sama lain ingin saling mengenal dan ada rasa persaudaraan di kelas. Kini saya memiliki banyak teman dari berbagai negara; Mexico, Vietnam, Filipina, Brazil, Algeria, Somalia, Guatemala dan Korea. 

Guru-guru di sekolah juga sangat ramah terhadap murid-murid yang baru pindah dari negaranya masing-masing. Mereka banyak membantu murid-muridnya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Di hari libur sekolah dan libur akhir pekan, saya sering diajak pergi oleh kedua orang tua agar lebih mengenal lingkungan setempat. Menelusuri sudut kota dengan berjalan kaki atau jika jaraknya agak jauh, kami menggunakan kendaraan umum seperti Skytrain, Bus dan Seabus. Kami pernah mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitar Vancouver (British Columbia), seperti Whistler, Capilano, Nairn Falls, Victoria serta beberapa pusat perbelanjaan. Lingkungan yang asri dan ramah membuat saya menjadi lebih betah tinggal disini.

Masyarakatnya juga sangat baik dan ramah. Salah satu yang perlu dicontoh dari mereka adalah soal menjaga kebersihan dan ketertiban bersama. Mereka sangat disiplin dan patuh terhadap semua aturan, sehingga semuanya berjalan dengan lancar. Rasa solidaritasnya tinggi dan saling menghormati serta menghargai satu sama lainnya.

Satu hambatan yang terasa bagi saya adalah ketika musim dingin tiba (Fall dan Winter). Ketika Winter, terkadang akses menuju sekolah sulit dicapai, karena sebagian besar jalan tertutup salju. Beberapa murid menjadi terlambat karena jalanan yang licin. Tak jarang sekolah lalu ditutup sehari atau dua hari. 

Namun bagi saya yang baru pertama kali mengalami salju serta melihat  bentuk dan indahnya salju, Winter membuat saya bahagia. 

Selama tinggal di sini, saya beserta kedua orang tua, Alhamdulillah, dalam keadaan sehat. Juga saat ini, dalam situasi pandemi COVID-19 yang berkepanjangan. Kami tetap bisa berkegiatan seperti biasa dengan mengikuti aturan serta menjaga protokol kesehatan: memakai masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan. 

Apabila semuanya berjalan lancar, maka tahun depan adalah tahun terakhir masa dinas orang tua saya dan saya hanya menunggu waktu untuk menerima ijazah dan kelulusan di tahun 2021 mendatang. Pasti ada banyak kenangan manis yang tak mungkin dapat saya lupakan selama tinggal di Vancouver. Mungkin hanya foto dalam bingkai serta kenangan yang dapat saya bawa tentang kota ini. 

Terima kasih, Ya Allah, yang telah memberi kesempatan dan kesehatan selama kami berada di sini. Sebagai anak Indonesia di Kanada saya selalu berpedoman terus belajar untuk menimba ilmu, belajar untuk dapat bersatu dan belajar karena ingin maju. Selain itu juga terus mencintai negara tempat saya lahir, menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orang tua.

Kenal lebih dekat dengan Mochamad Rayhandhra Naufal: Mengemas Keberagaman sebagai Bekal Kehidupan
Back to Top