Kebersihan adalah Kebahagiaan (Mengulik Keseharian Pelaku Hygiene OCD)

Kebersihan adalah Kebahagiaan (Mengulik Keseharian Pelaku Hygiene OCD)

“You never know what you have until you clean your room”

“Sweeping only moves the dust somewhere else”

“A spotless house is a sign of misspent life”

Bertaburan pendapat tentang betapa tidak menyenangkannya kegiatan membersihkan rumah. 

Namun itu semua tidak berlaku sama sekali bagi sepasang suami-istri murah senyum yang sudah lebih dari 15 tahun bermukim di Vancouver. 

Sang suami menyelesaikan masa SMP di Jakarta. Tak disangka di situlah awalnya ‘berkenalan’ dengan sesuatu yang, kemudian, didefinisikan sebagai “sebuah keinginan kuat untuk selalu menjaga kebersihan”.

“Saya sering main burung dara bersama teman-teman. Burung dara itu ternyata punya kutu yang bisa terbang dan lari di antara sayap-sayapnya. Kutu-kutunya itu membawa bakteri. Ketika bermain burung dara tentu saja saya pasti memegangnya dan kalau burung dara itu berkutu, otomatis tangan saya pastilah juga memegang kutu-kutu kecil itu.”

“Hingga suatu hari, saya merasakan gatal-gatal luar biasa di area selangkangan dan kelamin saya. Tak tertahankan. Membuat saya mesti pergi ke dokter. Agaknya saya pernah langsung pipis tanpa cuci tangan setelah bermain burung dara. Dokternya sampai menegur saya dan mengatakan betapa joroknya saya! Katanya, “Kamu jorok betul! Mesti sering-sering cuci tangan!”. Saya diberinya obat salep. Untunglah setelah 2 minggu, gatal-gatal yang sama sekali tidak mengenakkan itu hilang.”

“Dari dokter itu juga saya diminta melakukan sebuah penelitian kecil-kecilan. Sangat gampang. Sekadar membuktikan saja. Penelitiannya begini: ambil wadah seperti wadah selai. Diisi segumpal kapas dan air, lalu tangkap seekor lalat. Masukkan ke dalam wadah tersebut. Setelah 1 minggu, akan ada banyak larva (belatung) dalam wadah. Itu terjadi karena seekor lalat membawa banyak ‘hal menjijikkan’ di kaki-kakinya.”

“Semua kejadian traumatis tersebut melekat kuat di benak saya. Sejak itulah saya menjadi orang yang amat menjaga kebersihan yang, barangkali dinilai orang, di luar batas kewajaran. Bahkan dikategorikan OCD (Obsessive Compulsive Disorder)”.

“Saya paling takut melihat lalat. Saya tidak pernah lagi beli makanan di pinggir jalan. Kecuali makanan tersebut terhidang panas, seperti Sate Ayam, misalnya. Saya juga menolak bersalaman dengan orang lain. Kalaupun saat itu, sebagai anak, saya diajak bertamu dan mau tidak mau mesti bersalaman dengan pemilik rumah, saya pasti langsung minta ijin ke kamar mandi sesaat setelah bersalaman untuk mencuci tangan saya dengan air dan sabun. Saya bilang saja bahwa saya ingin buang air kecil. Pokoknya selalu ada cara bagi saya untuk segera membersihkan tangan saya sesegera mungkin.”

“Saya juga tidak pernah lagi berbagi makanan atau minuman dengan teman-teman saya. Jangankan dengan teman-teman, dengan adik kandung saya sendiri pun saya menolak.”

Apakah menghambat pertemanan? 

“Sama sekali tidak’, jawabnya. 

“Pernah ada kejadian yang ‘mengerikan’ bagi saya waktu tinggal di sebuah kota di Amerika. Hari itu saya mengambil makanan yang saya pesan di rumah seseorang. Tidak seperti biasanya, saya diminta mengambil sendiri makanan yang sudah disiapkan di atas meja makannya di lantai 2. Begitu saya buka tudung sajinya, berhamburanlah kecoa-kecoa kecil. Berlarian ke mana-mana. Aduh! Saya shocked!”

“Perhatian pada perkara hygiene ini bertambah saat saya belajar First Aid. Radar saya menguat di tempat-tempat umum seperti public transportations. Saya tidak akan menyentuh apapun di dalam Skytrain atau Bus karena kita tidak pernah tahu sudah berapa tangan berada di situ dan apa saja yang dipegang sebelumnya. Kalaupun saya akan duduk, saya pasti membaui kursinya. Jika ada aroma kurang sedap, sudah pasti, tidak akan saya duduki”. 

Baca juga:  Mengemas Keberagaman sebagai Bekal Kehidupan

Jadi ritual apa yang selalu dilakukan sesaat sampai di rumah dari bepergian?

“Saya tidak akan pernah mau duduk dulu. Itu jelas. Kalau kamar mandi kosong, saya bisa langsung mandi dan bersih-bersih. Lalu saya taruh semua baju yang saya pakai, termasuk kaos kaki, ke dalam laundry basket. Kalau kamar mandi sedang digunakan, saya berdiri saja dekat kamar mandi. Tidak akan jalan ke mana-mana dalam rumah dan tidak akan menyentuh apapun”.

Kewaspadaan pun meningkat berkali-kali lipat seiring merebaknya pandemic. Semua kemasan kaleng maupun terbungkus plastik dari Supermarket dicuci terlebih dahulu dengan sabun. Interior mobil dibersihkan menyeluruh secara seksama dan diakhiri dengan pemberian disinfectant di setiap sudutnya. Terlebih jika sebelumnya ada orang lain menumpang juga. Semuanya dilakukan dengan senang hati. Bukan beban. Baginya salah satu kebahagiaan terletak pada rasa nyaman yang diperoleh dari kebersihan. 

“Waktu saya pertama kali masuk ke apartemen suami saya setelah menikah, saya betul-betul kaget karena diteriaki, “Jangan duduk!” saat melihat saya langsung duduk di sofanya. “Kamu mesti ganti baju dulu. Mandi dulu”. Saya bingung bukan main. Lama-lama jadi terbiasa”, si istri tergelak-gelak. 

Giliran istrinya kini angkat bicara. 

“Sesudahnya banyak aturan yang harus saya ikuti. Baju di dalam kamar tidur tidak boleh keluar dan baju yang dipakai di ruangan lain tidak boleh masuk ke dalam kamar tidur. Ada satu sudut khusus semacam ‘pos penghentian’ untuk sepatu dari luar rumah. Saklar lampu dan pegangan pintu harus selalu dilap pakai sabun dan tisu basah. Kaos kaki yang tidak sengaja menginjak lantai, maka lantainya harus dipel seketika. Begitu pula jika ada tamu. Setelah tamu itu pulang maka bagian-bagian yang terpegang oleh si tamu, termasuk apabila tamu itu menyenderkan kepala ke dinding, harus dibersihkan dengan sabun. Saat itu juga! “

“Dia juga punya spot sendiri di rumah. Meja dan kursi yang hanya khusus bagi dirinya sendiri. Tidak boleh dipegang dan digunakan orang lain. Bahkan meskipun saya dan dia tidur seranjang, tetap ada guling di tengah sebagai barikade. Hahahaha… ”

“Lucunya lagi adalah kalau saya masih nonton TV sementara dia sudah pulas tertidur sampai ngorok… dia bisa bangun sejenak waktu saya masuk ke dalam kamar hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa saya sudah berganti baju dengan baju khusus di dalam kamar tidur!… Hahaha… Sungguh ajaib!”. 

Apakah ‘tersiksa’ menjadi orang terdekatnya? 

“Wah! Sekarang saya malah ‘ketularan’, jawabnya sungguh-sungguh. “Tetapi saya lebih cenderung ke kegiatan merapikan barang-barang. Decluttering. Paling senang removing unnecessary items. Senang sekali! Ada hasrat tak terbendung untuk beberes setiap kali melihat untidiness atau overcrowded place.”

“Saya pernah berkonsultasi ke dokter soal ini semua. Dokter bertanya, “Mengganggu atau tidak?”  Saya jawab tidak. Menurut dokter, sepanjang tidak mengganggu kenyamanan orang lain juga diri sendiri, berarti tidak apa-apa.”

“Bagi saya, menjaga kebersihan itu ternyata sesuatu yang bisa dibiasakan juga. Semua orang pasti bisa. Itu adalah kebiasaan sangat baik. Apalagi di kondisi saat ini.”

Sampai sekarang suami istri ini harus mengelap baju masing-masing dulu demi memastikan bersih sebelum berpelukan meski sepanjang hari berdiam di rumah. Namun, toh, pernikahan yang dijalani sudah lebih dari 20 tahun. 

Pertanyaan pungkasan buat si suami, “Jadi waktu memilih istri juga memasukkan kriteria ‘cinta kebersihan’ sebagai syarat utama?”

“Tidak. Karena saya sudah telanjur jatuh cinta sehingga malah tidak terpikir soal itu… Hahaha… Ternyata benar bahwa cinta itu bikin lupa!… Hahahaha…”

Back to Top