Jennifer – Jessica, Semakin Korea di Vancouver

Jennifer – Jessica, Semakin Korea di Vancouver

Exo, Lee Min-ho, Park Shin-hye diikuti sederetan nama bintang Korea lainnya adalah inti percakapan Sabtu tengah hari yang, saat itu, sedang tidak terlalu hiruk pikuk di Vancouver. 

“Kita berdua suka banget sama Exo dari 2012. Karena mereka ganteng-ganteng. Talented. Keren!”. Berbinar-binar Jennifer menuturkan soal idola mereka. “Bisa gemeteran kalau nonton video Exo nyanyi! Ha ha ha.” Tawanya membahana.

Istilah Hallyu atau “Gelombang Korea” pertama kali muncul sekitar 1997. Sebutan yang mengacu pada kegilaan global terhadap budaya Korea ini mencuat ketika pada tahun tersebut, drama TV berjudul “What Is Love” ditayangkan di Cina dan menempati peringkat kedua dalam jajaran video impor yang populer di sana. Setelahnya, giliran Jepang yang dihantam gelombang Korea lewat tayangan serial drama bertajuk “Winter Sonata” di NHK yang menjadikan Pulau Nami di Chuncheon – Korea sebagai destinasi wajib para turis Jepang. Mulai dari situ, penyebaran Hallyu terutama di pertengahan 2000 sampai 2010 dimotori oleh Boyband dan GirlBand seperti Big Bang, Girls’ Generation, Super Junior, Twice, SS501, 2NE1 dan lainnya. Hallyu pun memperluas basis penggemar ke luar Asia. Ke Amerika Latin dan Timur Tengah. Digandrungi terutama kaum muda usia remaja dan 20-an tahun.

Bergerak dan berkembang sebagai bentuk kegilaan tersendiri, drama Korea juga mendapatkan perhatian penuh dari seluruh dunia dan, bahkan, menerima pengakuan sebagai genre independen dengan sebutan K-drama. Sudah pasti menjangkiti pula si kembar asal Surabaya yang berjarak waktu lahir 3 menit ini.

“Jadi sebenarnya bermula dari Mama yang suka banget nonton drama Korea. Kalau kita  lagi mondar-mandir waktu Mama nonton, kita sering lirak-lirik. Lama-lama ikutan nonton juga dan akhirnya ketagihan,” Jessica, kembaran Jennifer, menimpali awal ketertarikan mereka pada drama Korea.

Sebentuk ketagihan yang berbuntut positif karena membuat mereka berdua menjadi sangat fasih bicara bahasa Korea tanpa kursus sama sekali. Alias otodidak!

“DraKor yang kita tonton lengkap pertama kali itu judulnya “Heirs”. Di situ Lee Min-ho main bareng sama Park Shin-hye. Karena suka sama Park Shin-hye, membuat kita jadi sering cari-cari acara atau drama yang ada dia sebagai pemainnya. Ketemu, deh, dengan Running Man. Acara bertema Variety Show. Ada games, membahas makanan-makanan Korea, budaya Korea dan macam-macam lagi yang disiarkan weekly. Waktu pertama kali nonton, pas Park Shin-hye jadi bintang tamunya. Itu sudah episode ke 100. Karena acaranya seru, kita memutuskan untuk nonton semua episodenya dari awal. Berlanjutlah sampai sekarang,” lanjut Jennifer. “Dari situ jadi tambah suka dan semakin suka dengan segala hal dari Korea.”

Jessica menambahkan, “Biasanya drama Korea ditayangkan pada malam hari di Korea. Kita nonton live streaming di Website. Kemudian besok siangnya (waktu Indonesia) disiarkan ulang lagi di Website dengan sudah ada tambahan subtitle. Karena kita sekolah, berarti kita baru bisa nonton setelah pulang sekolah. Dan itu nyebelin! Sehingga memicu keinginan untuk belajar bahasa Korea, hanya supaya bisa nonton tanpa harus menunggu tayangan ulang yang sudah ada subtitle.”

“Nonton dramanya diulang-ulang. Nonton satu kali sambil mendengar dan membaca terjemahan. Berikutnya, hanya mendengar dialog saja, kita sudah bisa tahu di bagian mana pada drama tersebut yang ada dialog itu. Sudah ngerti banget!” jelas Jennifer.

Tahun 2019, K-drama berjudul “Kingdom” berhasil memikat secara internasional, terutama soal sinematografinya, naskah yang apik, serta kemampuan penyutradaraannya yang profesional. Penggarapan yang benar-benar serius. 

Baca juga:  Berkendara Menyusuri British Columbia

Jennifer serta-merta menyetujui hal itu. “Nonton drakor bisa mempelajari banyak sekali hal, karena industri mereka itu menjalankannya sungguh-sungguh. Segala sesuatu dibikin dengan cermat. Untuk jadi Zombie, misalnya, para pemain sebanyak 300 orang dilatih dengan koreografer yang kompeten sehingga gerakan-gerakannyanya sebagai Zombie bisa luwes dan natural. Jadi kita selain nonton dramanya, juga selalu nonton Behind The Scene dari drama-drama itu. Proses pembuatan yang juga menarik. Membuat jadi lebih paham.”

“Aku malah pernah dapat inspirasi dari drakor sewaktu ada tugas untuk menulis sebuah artikel bertema bebas,” lanjut Jessica yang mengambil kuliah CMS (Combined Major in Science) di UBC (University of British Columbia). “Aku menulis mengenai penyakit langka bernama Prosopagnosia, yaitu penyakit yang tidak bisa mengenali wajah. Dikenal juga dengan sebutan Face Blindness. Diakibatkan kelainan pada otak. Dan teman-teman sekelasku enggak ada yang tahu tentang penyakit itu,” Jessica tersenyum lebar. 

Setelah cakap mendengar dan mengerti dialog dalam drakor, Jennifer dan Jessica, yang keduanya mengaku berkepribadian introvert, lalu memberanikan diri bicara menggunakan bahasa Korea. Sesudah itu lalu menghafal alfabet agar terlatih membaca dan menulis Hangul. Keseluruhannya dilakukan sendiri lewat Google Translate

Mereka mengaku kemahiran berbahasa Korea semakin terasah justru setelah pindah ke Vancouver dan bertemu teman-teman asal Korea. “Kebetulan sering berjumpa teman-teman dari Korea yang belum lancar ngomong bahasa Inggris. Sehingga mereka langsung ngajak ngomong bahasa Korea begitu mereka tahu kita bisa bicara dalam bahasa Korea. Lagipula kita belajar bahasa Korea ini, khan, dari percakapan di drama Korea yang merupakan obrolan sehari-hari. Jadinya memudahkan kita untuk ngomong dengan enak sama teman-teman Korea itu. Tambah lancar, deh!” Keduanya tergelak. 

Banyak tambahan ilmu baru pula yang didapat dari teman-teman asal Korea. Selain Korean Proverbs yang terdiri atas 4 kata, Jennifer dan Jessica juga belajar mendengarkan dialek berbeda karena teman-teman mereka datang dari beragam daerah di Korea. Keduanya kini bahkan lebih ingat bahasa Korea daripada bahasa Inggris saat mencari padanan sebuah kata bahasa Indonesia. 

Meski terlahir sebagai kembar identik, tak pernah berpisah lebih dari 5 hari sejak bayi, ke mana-mana berdua dan tidak ada rahasia di antara mereka, akan tetapi Jennifer dan Jessica memiliki perbedaan pula. Jessica suka warna biru dan ungu atau warna-warna lembut sedangkan Jennifer menyukai warna pink. Jessica menggemari semua genre K-drama kecuali horor, sementara Jennier lebih memilih K-drama bertema medical dan action

K-drama favorit?

Jessica: “Untuk sad ending drama, favoritku Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo dan Hotel Del Luna. Untuk happy ending drama, aku suka Lawless Lawyer dan Vincenzo.”

Jennifer: “Buat aku, genre action paling bagus. The K2 sama The King: Eternal Monarch.”

Makanan Korea favorit?

Jessica: “Sundubu-Jjigae atau Soft Tofu Soup.”

Jennifer: “Naengmyeon atau Cold Noodle.” 

Pengalaman berkesan berkaitan bahasa Korea?

Jessica: “Kenalan dengan teman Korea yang lahir di sini sehingga bahasa Koreanya lebih fasih aku ketimbang dia! Ha ha ha!”

Jennifer: “Punya teman dari Taiwan yang belajar bahasa Korea di sini. Jadi aku sama dia selalu ngomong bahasa Korea dan bukan bahasa Inggris!”

Tulisan ini merupakan kado ulang tahun buat Jennifer dan Jessica yang merayakan hari lahirnya tanggal 20 Maret 2022. Selamat Ulang Tahun, ya!

Back to Top