Dari Tubir Kelimutu

Dari Tubir Kelimutu

“Apakah Anda membenci Belanda?”

“Masalahnya bukan bangsa Belanda. Masalahnya adalah imperialisme!”

“Tuhan tidak pernah merestui pengeksploitasian terhadap bangsa dan manusia. Sebagai pelayan Tuhan, saya mendukung perjuangan anda, Tuan Soekarno. Ijinkan saya bertanya, apa arti kemerdekaan bagi Anda?”

“Kemerdekaan adalah dasar teramat penting bagi negara manapun. Menjadi hak untuk bangsa kulit putih atau berwarna”. 

“Bagaimana Anda akan mewujudkannya?”

“Bangsa kami telah mengalami banyak penderitaan dan kesedihan dan itu semua membuat kami semakin kuat. Bertambah kuat. Dari tempaan tersebut maka kemerdekaan akan dicapai melalui persatuan rakyat Indonesia menjadi satu negara”.

Serupa itu obrolan yang sering terjadi antara Soekarno dengan Pastor Gerardus Huijtink, pemimpin Paroki Kristus Raja di Ende, kota paling kecil di Flores, Nusa Tenggara Timur dan berlokasi di pesisir bagian Selatan. Soekarno sedang menjalani masa pengasingan akibat kekhawatiran pemerintah Belanda atas sepak terjangnya merealisasikan kemerdekaan. 

Berada jauh dari kawan-kawan seperjuangan serta teman-teman diskusi sempat membuat Soekarno frustrasi. Namun Soekarno mendapat simpati penuh dari para Misionaris Katolik Belanda yang tak peduli adanya larangan pemerintah Belanda untuk menghindari tahanan politik dari tanah Jawa itu. Mereka bahkan memberikan kunci ruang perpustakaan pada Soekarno serta membebaskannya memasuki ruang itu kapanpun. 

Soekarno selalu memerlukan perbincangan bernas agar nalarnya tetap terasah. Pastor Bouma, Pastor Johannes Van Der Heijden, Pastor M. Van Stiphout merupakan rekan mengasyikkan dalam bertukar pikiran. Soekarno leluasa melontarkan opini tentang penindasan yang dialami bangsa Indonesia dengan mereka. Terkadang sembari menghikmati beringsutnya pagi di tubir Kelimutu, danau tiga warna yang penuh pesona. 

“Bapa, kemarin malam saya melihat masyarakat di sini mengadakan kenduri. Di depan rumahnya ada barisan kursi khusus untuk para tamu orang Belanda. Dan di sebelah kanannya digelar tikar untuk orang pribumi. Kejadian diskriminasi itu amat mengganggu saya”.

Photo by Wylly Suhendra on Unsplash

“Tuhan tidak pernah membedakan manusia dari warna kulitnya. Lalu apa yang terjadi, Tuan Soekarno?”

“Saya minta mereka menyingkirkan kursi-kursi itu dan menggantikannya dengan tikar yang sama yang disediakan untuk warga. Orang-orang Belanda menjadi sangat marah pada saya. Seorang warga lalu melerai kami”.

“Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan. Tapi banyak orang menyikapi perbedaan itu dengan salah”.

“Saya menentang keras semua perbedaan perlakuan terhadap para pribumi”.

“Tuan Soekarno, saya terus memikirkan konsepsi Anda tentang perbedaan dan penyatuannya”.

“Konsep saya jelas, perbedaan ada. Namun semangat toleransi, semangat bersatu dan kesatuan, semangat kebersamaan, yang terpadu dalam ragam budaya, suku dan adat di Indonesia itu dapat dipakai sebagai dasar negara Indonesia merdeka yang akan datang. Satu dasar yang benar-benar menghimpun rakyat Indonesia. Mempersatukan rakyat Indonesia. Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat berTuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Di atas dasar-dasar itulah Indonesia berdiri sebagai negara yang kekal dan abadi”. 

Soekarno berpendapat bahwa Revolusi itu sebuah dialektika, mengandung dua kutub berseberangan, yang oleh karenanya mensyaratkan demokrasi. Di mana siapapun tidak boleh mengekang kebebasan berbicara golongan manapun, meski berbeda mata dan warna kulit.

Ende 1934 – 1939 memang babak terpenting bagi Soekarno dan Indonesia. Di situlah, lahir Pancasila. Gagasan cendekia Soekarno berupa lima dasar yang menjadi ideologi bernegara Indonesia sampai sekarang: Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Cover Photo: Wikimedia Commons

Kembali