Cerita Kawan dari Lorong Keheningan

Cerita Kawan dari Lorong Keheningan

“Saya lahir di Indonesia. Di kota yang dikategorikan dalam salah satu kota paling macet di dunia. Saya tidak tuli dari lahir. Akan tetapi karena sakit panas tinggi di usia 1,5 tahun, membuat saya menjadi tidak bisa mendengar lagi dengan baik. Dokter pun menyatakan dan memastikan saya tuli.”

“Skenario hidup saya seketika berubah. Kepada orangtua saya, dokter menyarankan agar saya masuk ke sekolah khusus, yaitu SLB  Bagian B. Sekolah Luar Biasa khusus untuk anak-anak tuli. Saya lalu disekolahkan di sebuah sekolah berasrama untuk anak-anak tuli yang terletak di sebuah kota yang cukup jauh dari kota tempat saya tinggal. Saya tinggal di situ bersama teman-teman tuli lainnya.” 

“Saya senang sekali berenang. Berenang adalah salah satu hiburan bagi saya semasa tinggal di asrama. Saya sering pergi berenang dengan teman-teman seasrama. Kami berjalan kaki saja karena jalanan menuju tempat berenang merupakan jalanan menurun. Sehingga, tentu saja, terasa ringan dan kami tidak kelelahan. Menjadi persoalan menyebalkan, setelah usai berenang. Untungnya, ada seorang Bapak baik hati yang tinggal tak jauh dari asrama kami, selalu memberi tumpangan kendaraan buat kami. Tak hanya itu, masing-masing dari kami juga selalu mendapat sepotong tempe goreng. Kami duduk manis mengunyah tempe goreng renyah di dalam mobil. Diantar pulang sampai ke asrama dengan selamat. Sebuah pengalaman masa kecil yang teramat membahagiakan.”

“Suatu hari, selepas lulus kuliah, saya menemukan sebuah artikel menarik di harian Kompas mengenai kehidupan orang-orang tuli di Amerika yang bagaikan hidup di surga karena sangat diperhatikan dan diperlakukan baik oleh Pemerintah. Saya penasaran dibuatnya. Saya jadi betul-betul ingin merasakan, secara langsung, kehidupan sebagai orang cacat di negara maju. Saya mencari informasi ke banyak tempat. Ke mana-mana. Sampai akhirnya saya memutuskan belajar bahasa Inggris selama 1,5 tahun di sebuah kota di Canada.”

“Beberapa tahun kemudian, sekembalinya saya dari belajar bahasa Inggris di Canada, saya berangkat lagi ke Canada. Kali ini untuk menetap. Memulai suatu kehidupan berbeda. Menurut saya, saya tergolong orang yang tidak sabaran. Saya juga jenis orang yang tidak mau terlalu merepotkan orang lain. Oleh karena itu saya telah membekali diri sebaik mungkin menghadapi tantangan dalam lembaran baru bermukim di Canada.”

“Sekadar usulan saja bagi teman-teman tuli, khususnya dari Indonesia, bahwa ada baiknya untuk mempunyai dasar bahasa Inggris yang kuat, terutama dalam tulisan, agar bisa menjalin komunikasi secara gampang dengan banyak orang di Canada yang datang dari berbagai negara. Dengan lancar berkomunikasi, selain melatih keberanian berinteraksi juga untuk memperluas networking, yang pastinya akan sangat berguna di kemudian hari.”

Baca juga:  Belajar Loyalitas dari Snowy

“Saya tidak terlalu menyarankan bahasa isyarat dijadikan sebagai bahasa yang didahulukan bagi kaum tuli, sebetulnya. Karena, tentu saja, tidak semua orang (khususnya non-disabiltas) menguasai bahasa isyarat. Kaum tuli tidak bisa setiap saat menggantungkan diri pada para penerjemah. Penerjemah juga tidak bisa selalu hadir sepanjang waktu.”

“Namun demikian, pastilah bahasa isyarat itu masih relevan digunakan dalam kondisi dan situasi tertentu. Contohnya di sekolah, pada pelatihan pekerjaan, bertemu dokter dan lain sebagainya. Itulah sebabnya kedua bahasa sebaiknya digunakan seimbang.”

“Saya sendiri sebetulnya tidak mahir berbahasa isyarat. Bahasa isyarat bukan ditetapkan sebagai bahasa pertama di tempat saya sekolah dulu. Guru-guru mendidik kami, anak-anak tuli, untuk bisa trampil membaca gerakan bibir. Sampai sekarang saya masih terus belajar berbahasa isyarat yang baik”. 

“Bagi yang ingin melanjutkan sekolah di Canada, selain dasar bahasa Inggris yang kuat, kaum tuli pun diwajibkan fasih berbahasa isyarat karena pemerintah Canada mengharuskan kaum tuli selalu disertai penerjemah agar proses studinya berlangsung lancar.”

“Di awal kedatangan saya di Canada, saya tidak tahu cara menulis resume yang benar ataupun cara menjalani wawancara pekerjaan. Saya lalu mendatangi Employment Service yang memang disediakan oleh pemerintah Canada. Baru di situlah saya belajar semuanya melalui sebuah proyektor dengan bahasa Inggris yang mudah dipahami. Ada pula petugas yang mendampingi. Sekitar 1,5 bulan lamanya saya belajar dan mempersiapkan diri untuk bekerja”.

“Apakah saya pernah putus asa? Sudah pasti. Menangis? Sering banget. Saya manusia biasa. Kesal, marah, jengkel karena ada perlakuan diskriminatif atau merasa tidak ada orang yang tulus membantu saya bila saya minta bantuan. Di saat-saat itu, cuma pesan Ibu yang selalu saya ingat bahwa saya tidak bisa berharap orang lain yang menyesuaikan diri ke saya tapi saya, sebagai orang cacat, yang harus menyesuaikan diri ke orang lain”. 

Menyudahi perbincangan, rasa penasaran saya teramat kuat menanyakan satu hal ini, 

“Suara apa di dunia ini yang paling ingin didengar?”

Mata coklatnya cepat membaca gerakan bibir saya, lalu tulisnya di kertas, 

“Suara anak saya.”

(Terima kasih khusus untuk MFJ atas ijinnya menulis percakapan ini dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, tanggal 3 Desember 2020)

Cover Photo by Anubhav Saxena on Unsplash

Back to Top