Bumi Dipijak, Bahasa Indonesia Dijaga

Bumi Dipijak, Bahasa Indonesia Dijaga

Fokus utama dari novel horor, film horor atau apapun yang berbau horor adalah menimbulkan rasa takut bagi pembacanya atau penontonnya lewat gambar, suara, tema dan situasi mencekam. Orang membaca cerita horor karena mereka menikmati sensasi ketakutan. 

Betul begitu, Nezla? Memangnya, apa yang menarik dari sebuah kisah horor? 

Nezla tertawa, “Aku pernah nonton film horror di bioskop sama temen-temen. Semuanya ketakutan. Semuanya tutup mata. Teriak-teriak. Aku santai aja. Nonton film dengan tenang. Ha ha ha ha. Aku enggak tau juga alasannya kenapa aku suka horror. Mungkin karena adrenaline rush. Lagipula, kadang-kadang hidup lebih menakutkan. Ha ha ha”.

Baca Tulisan Nezla Afirah Annaisha : Aurora, Cahaya dari Utara

“Baca buku horror, ghost atau misteri, malah bisa lebih serem, lho, daripada nonton film. Karena buku bisa sangat powerful. Kita bebas berimajinasi. Bebas membayangkan”. 

“Aku lahir tahun 2002. Anak pertama. Adikku 2. Kembar. Dua-duanya cowok. Beda 2 tahun dengan aku. Ayahku dari Semarang. Ibuku orang Sunda. Aku sudah 10 tahun tinggal di Canada. Setiap 2 tahun sekali kami sekeluarga visit Indonesia. Ketemu saudara-saudara, jalan-jalan dan makan-makan. Aku suka Siomay, Batagor dan Kalio Ayam”, Nezla memperkenalkan dirinya. 

“Tulisan yang aku buat untuk Lomba Menulis 2020 itu adalah pengalaman pertama kali aku melihat Aurora. Waktu itu, aku belum lama pindah ke sini. Aku masih umur 8 tahun. Kelas 3. Itu betul-betul membuat aku takjub. Indah sekali. Aku belum pernah liat sesuatu yang seperti itu”.

“Sampai sekarang, setelah 10 tahun di sini dan meskipun udah sering liat, aku juga masih tetap mengagumi keindahan Aurora. Tapi memang yang paling berkesan adalah waktu pertama kali lihat. Aku merasa beruntung sekali karena aku enggak perlu pergi ke mana-mana untuk lihat Aurora. Cukup dari halaman belakang rumah aja”. 

Bagi Nezla Afirah Annaisha, menulis dalam Bahasa Indonesia lebih mudah dan membuatnya nyaman. Oleh karena itu, ia berjanji ke mana pun jejaknya menapak, Bahasa Indonesia pasti selalu bersamanya. 

Baca juga:  Enigma Batas Hidup Manusia

“Selain menulis, aku suka menggambar. Pernah juga jadi anggota klub gambar di sekolah. Hobi yang lain adalah outdoor activities. Berenang, hiking atau kayak stand up”.

Sekarang gadis berusia 18 tahun ini sedang menekuni kuliahnya di Calgary University. Mengambil jurusan arsitektur. Cita-citanya, tentu saja, menjadi seorang arsitek dan ingin mendapatkan kesempatan mengembangkan dunia arsitektur di Indonesia. Menurutnya, rumah-rumah adat di Indonesia bisa menjadi pijakan inspirasinya mendesain bangunan. Nezla bahkan memperhatikan adanya kesamaan antara menulis dengan profesi arsitek.
“Arsitek merangkai susunan ruang-ruang lewat bentuknya secara detail. Memikirkan agar ruang yang satu terhubung dengan ruang lainnya dengan benar. Enggak asal-asalan. Menulis juga begitu. Merangkai kalimat dengan benar supaya enak dibaca”.

Back to Top