Bertemu Diri Sendiri

Bertemu Diri Sendiri

Musim panas yang basah. Vancouver diguyur hujan siang itu, sewaktu Gisela Cindy membuka cerita. “Aku merasa hidupku monoton. Bosen banget! Setiap hari syuting. Perjalanan sehari-hari hanya dari rumah ke lokasi syuting dan pulang ke rumah lagi. Begitu terus”, ujarnya menjawab pertanyaan alasan utama meninggalkan zona nyamannya sebagai artis sinetron dan film di Indonesia. “Aku pengen punya kehidupan lain”.

Sekolah lalu menjadi pintu gerbang menuju kehidupan lain yang diimpikannya itu. 

“Dari dulu memang aku seneng sekolah. Dan saat kelas 2 SMA, aku sudah mantap untuk meneruskan sekolah ke luar negeri”.

Menelusuri informasi ke mana-mana. Mendatangi pameran-pameran pendidikan. 

“Ibu dan kakak bilang untuk sekolah di negara yang deket-deket aja dari Indonesia. Jadi aku daftar ke sebuah sekolah di Singapore. Baru daftar aja, sih. Belum bayar”. 

Sengaja datang ke Singapore 3 bulan sebelum sekolah mulai demi belajar beradaptasi. Hasilnya?

Nggak kerasan!”.

Gisela kembali ke Indonesia. Tak lama menunggu, seorang perwakilan sebuah institusi pendidikan luar negeri memberinya informasi berlimpah tentang Canada. Negara yang tidak banyak diketahuinya dan tidak masuk sama sekali sebagai negara kandidat baginya melanjutkan sekolah, karena letaknya teramat jauh dari Indonesia. 

Namun yang terjadi adalah, tepat di tanggal 1 Januari 2013, kedua kakinya sudah menjejak lantai Toronto Pearson International Airport

Sendiri.

Foto: Gisela Cindy

 “Aku masak nasi di rice cooker tanpa air! Pantesan kok nggak mateng-mateng”, tuturnya terbahak-bahak mengingat kembali aneka kekonyolan di hari keduanya sebagai ‘manusia biasa’. “Hari ketiga aku sakit. Kedinginan. Ibu sampai nangis. Aku diminta pulang. Tentu saja aku menolak. Sebab aku tidak merasa homesick”.

Menjalani kuliah selama satu semester, Gisela merasa tidak pas dengan jurusan yang dipilihnya. “Waktu SMA sebenernya aku suka mata pelajaran akuntansi. Begitu di Toronto, kok kayak nggak cocok gitu”.

Pengembaraannya diperluas, hingga akhirnya sebuah sekolah film di Vancouver memberinya beasiswa setahun penuh. “Aku diminta bikin script. Bikin short movie. Sesuatu yang nggak jauh dari duniaku sebelumnya. Sudah pasti aku bisa mengerjakannya dengan penuh percaya diri. Mereka senang. Aku diterima”.

Gisela mendarat di Vancouver bulan April 2014 dan langsung jatuh cinta dengan kota ini.

Lahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara, Gisela Cindy sudah terjun ke dunia akting sejak masih berumur 4 tahun. Namanya menjulang seiring dengan berkibarnya judul sinetron yang dibintanginya, seperti Pandji Manusia Milenium, Tuyul dan Mbak Yul dan Tangisan Anak Tiri. Sebagian besar perannya adalah antagonis.

Kilau lampu sorot, berlembar-lembar skenario, mobil pribadi lengkap dengan supir, bayaran yang diterima setiap hari serta gemerlap panggung hiburan yang melingkupinya dulu, lenyap sudah.

Digantinya secara sadar dengan keadaan yang, menurutnya, ‘lebih nyata’.

“Mondar-mandir nglayanin pengunjung restoran sebagai server, udah pernah. Dimaki-maki pengunjung karena salah order waktu jadi kasir di sebuah kedai kopi juga pernah. Nangis sendirian malem-malem karena ada mata kuliah yang gagal, pernah banget”.

Meskipun sekarang menjadi store manager sebuah toko sepatu dari merk ternama, namun pontang-panting mengejar bus, nyikat WC dan harus menunggu paycheck setiap 2 minggu sekali masih dilakoninya. Sampai detik ini. 

Menyesal? Gisela menggeleng mantap. “Ini adalah kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan normal yang selama ini aku rindukan”, kata penyuka sushi ini sumringah tak tersamar. 

Satu persatu hal-hal ternikmat yang didapatnya di sini disebutnya, “Selonjoran di taman sambil baca poetry books atau ngelamun. Berteman dengan siapapun tanpa berjarak. Groceries shopping jam 10 malam pakai sweat pants, sweat shirts, snickers dan no make up”. 

Hidup senantiasa menyediakan beragam kejutan. Bagaimana menyikapi ‘kejutan yang tak sejalan dengan kehendak’?

Pecinta suasana pagi ini menanggapi tegas, “Just keep going!”.

Sebuah reaksi hasil menempa ketangguhan diri sendiri.

Sebuah penjelmaan bertemu diri sendiri.

Kembali