Berduka dalam Sepi (Covid-19 Merenggut Ibuku)

Berduka dalam Sepi (Covid-19 Merenggut Ibuku)

“Beberapa teman dan kerabat memberi saran agar aku tidak berlarut-larut tenggelam dalam pencarian kepastian mengenai apakah Ibu positif atau negatif Covid-19. Kesembuhan Ibu  adalah hal paling utama. Tapi argumenku adalah status Ibu penting diketahui agar Ibu mendapat penanganan yang benar-benar tepat. Apakah Ibu sedang mendapat penanganan sebagai pasien positif atau negatif Covid-19? Jangan-jangan Ibu dirawat sebagai pasien positif Covid-19 padahal sebenarnya bukan. Atau sebaliknya. Ibu dirawat sebagai pasien negatif Covid-19 padahal sebenarnya status Ibu positif. Bukankah itu mempengaruhi obat-obatan yang diberikan pada Ibu?”. 

“Jumat dini hari, tanggal 27 Maret, aku menerima telepon dari RS. Mereka meminta ijin memasang ventilator (alat bantu pernapasan) untuk Ibu. Saat itu hasil test Ibu tanggal 25 belum keluar”. 

“Minggu, tanggal 29 Maret, RS tempat Ibu dirawat mengabariku bahwa hasil test Ibu sudah ada. Positif. Ibu positif Covid-19. Aku diminta datang ke RS untuk mengambil hasilnya. Tapi aku menolak. Saat itu, aku sedang merasa tidak enak badan. Aku terserang demam”.  

“Selasa sore tanggal 31, kondisi Ibu memburuk. Terus memburuk”.

“Kamis pagi-pagi, tanggal 2 April, pihak RS menghubungiku. Mempersilakan aku atau siapapun anggota keluarga untuk datang ke RS karena kondisi Ibu yang sangat menurun. Ibu sudah dalam keadaan kritis. Aku menjawab bahwa aku akan datang jika diperbolehkan bertemu dan melihat Ibu. Jika tidak, adik laki-lakiku yang akan pergi ke RS, sebab aku masih demam”.

“Aku menghubungi adik laki-lakiku. Memintanya datang ke RS. Segera. Aku juga mengingatkannya untuk membawa baju alat pelindung diri lengkap. Sesampainya di sana, adikku memberitahuku bahwa ia tidak dibolehkan masuk ke dalam RS. Hanya bisa berdiri di luarnya saja”.   

“Menjelang tengah hari, pihak RS meneleponku kembali. Aku diminta berbicara pada Ibu. Aku sudah bisa menduga apa yang terjadi. Kesempatan itu kugunakan sebaik-baiknya. Aku menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya pada Ibu. Aku juga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Ibu yang telah melahirkanku.  Aku tidak mendengar apapun dari seberang telepon hingga sesaat kemudian, terdengar suara dokter menyatakan bahwa Ibu telah meninggal dunia. Aku menutup telepon. Tangisku pecah”. 

“Sesuai aturan yang diberlakukan, pemakaman Ibu harus dilaksanakan sesegera mungkin, dengan protokol ketat di area pemakaman yang sudah disiapkan Pemerintah. Hanya beberapa orang anggota keluarga yang dipersilakan menghadiri pemakaman. Itupun harus dari jarak jauh. Boleh mendekat, setelah Ibu dimakamkan. Aku masih demam. Aku tidak bisa datang. Aku berencana mengunjungi makam Ibu tepat di hari ulang tahunnya, tanggal 29 Mei”. 

“Meski aku demam disertai gejala-gejala lain seperti rasa pahit di lidah dan mual, tetapi hasil testku negatif Covid-19”.

“Terkadang berjuta mengapa dan andaikan masih berkecamuk dalam kepalaku, terutama masalah prosedur penanganan, koordinasi antar RS serta kejelasan informasi. Aku ikhlas dengan kepergian Ibu, namun aku jelas berharap Indonesia bisa memperbaiki lagi segala tatanan pada layanan kesehatan masyarakat”.

“Pada akhirnya, tidak adanya kesempatan bagiku melihat Ibu untuk terakhir kalinya, malah memberiku rasa syukur bahwa yang tertinggal adalah kenangan-kenangan yang manis dan penuh keindahan. Betul-betul  sesuai dengan yang diinginkan Ibu. Diingat sebagai pribadi yang hangat, menyenangkan, menyayangi serta disayangi banyak orang dan tidak pernah mau merepotkan siapapun, bahkan anak-anaknya sendiri”.

Photo by Jonathan Cooper on Unsplash

Back to Top