Berduka dalam Sepi (Covid-19 Merenggut Ibuku)

Berduka dalam Sepi (Covid-19 Merenggut Ibuku)

“Beberapa perawat mengantar Ibu masuk ke ruang isolasi dalam IGD. Aku dilarang mengikutinya. Aku tidak boleh menjaga Ibu di sampingnya. Jadi tidak ada yang bisa aku lakukan di situ. Ruang IGD penuh orang membuat aku tidak nyaman berada dalam kerumunan. Kuputuskan kembali ke rumah. Sebelum pulang, aku mencari tahu terlebih dulu kejelasan status Ibu.  Apakah Ibu sudah dinyatakan positif Covid-19 atau bagaimana? Seberapa gawat keadaannya? Ke sana ke mari aku bertanya. Tak dapat jawaban pasti. Aku pulang dengan pikiran kalut.  Kesal, marah, bingung, kecewa, sedih, takut, semua campur aduk jadi satu”. 

“Malam itu, dalam keheningan, aku bersimpuh di kamarku. Mendaras kencang doa. Air mata menetes tak terbendung. Aku menangis tersedu-sedu”. 

“Jam 10 pagi, esok harinya, aku sudah berada di RS lagi. RS menginformasikan bahwa Ibu telah dipindahkan dari ruang isolasi di IGD ke ruang isolasi di ruang perawatan. Demikian  keterangan yang aku terima. Namun anehnya, ketika aku sedang mengurus administrasi, aku melihat tempat tidur Ibu lewat di dekatku, didorong beberapa petugas berpakaian pelindung diri lengkap. Sekitar jam 3 siang saat itu. Aku bingung, sebab menurut RS, Ibu sudah berada di dalam kamar isolasi di ruang perawatan. Kebingunganku tak kuhiraukan. Aku bergegas mendekati Ibu, tapi mereka melarang. Aku hanya bisa memandang wajah Ibu sebentar. Tanpa sempat bertukar kata”.

“Sejak itu, komunikasiku dengan Ibu hanya bisa lewat video call. RS, untungnya, membolehkan Ibu membawa telepon genggam ke dalam kamar isolasi. Akan tetapi, aku masih terombang-ambing dalam ketidakjelasan. Misalnya, RS memberitahuku bahwa mereka harus segera membawa Ibu ke RS rujukan yang telah ditunjuk Pemerintah untuk menangani pasien Covid-19. RS tempat Ibu dirawat bukanlah RS rujukan. Aku setuju saja kalau memang itu yang terbaik. Tapi ketika aku menanyakan hasil test Ibu, pihak RS bilang bahwa hasilnya belum ada. Apakah itu berarti Ibu harus tetap dipindahkan ke RS rujukan meski belum ada hasil test yang menyatakan Ibu positif terkena Covid-19? Bagaimana seandainya Ibu sudah dipindahkan ke RS rujukan kemudian hasil test menyatakan negatif?”

“Kegelisahanku bertambah-tambah karena komunikasi dengan para perawat yang bertugas di ruang isolasi pun tidak berjalan lancar. Contohnya,  setiap kali aku, dari rumah, menelepon perawat di ruang isolasi menanyakan keadaan Ibu, akan dijawab bahwa mereka mesti mengecek dulu ke kamar isolasi lalu mereka akan menghubungi aku kembali. Tetapi aku selalu menunggu lama untuk mendapat jawaban. Bisa lebih dari 2 jam! Atau ketika aku mengantarkan diapers yang diminta oleh RS, aku harus menelepon berulang-ulang untuk memastikan bahwa perawat di ruang siolasi tahu aku sudah membawakan diapers untuk Ibu. Keluarga pasien dilarang memasuki area ruang isolasi. Jadi aku hanya bisa menitipkan diapers, charger telepon untuk Ibu atau barang-barang lainnya di bagian informasi”.

“Setiap hari aku mendatangi RS. Menanyakan hasil test yang tak kunjung selesai, sembari berkoordinasi dengan pihak RS dalam menerapkan langkah selanjutnya. Meski RS berulangkali mengatakan bahwa mereka sedang mengerjakan urusan administrasi ke RS rujukan dan menindaklanjuti sesuai prosedur yang diarahkan oleh RS rujukan,  tapi nampaknya RS juga mengalami kegamangan. Mereka seperti tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Mereka malah balik bertanya padaku, siapa yang harus mereka hubungi di RS rujukan. Ya Tuhan!”.

“Dari hari ke hari,  aku berupaya mendapatkan hasil test Ibu. Menurut RS, apabila hasilnya negatif, aku bisa membawa Ibu pulang. Namun aku masih tetap belum mendapatkannya. Sambil menunggu, aku bergerak terus. Mencari informasi ke sana ke mari, mengontak siapapun yang bisa membantuku mencarikan kamar untuk Ibu di RS rujukan, seandainya Ibu mesti dipindah ke sana. Aku juga mulai mengurus berbagai surat penting sebagai syarat pemindahan Ibu, seperti rekam medis dan surat rekomendasi dari dokter. Sayangnya, di hari Minggu itu, dokter yang berwenang untuk menandatangani surat rekomendasi tidak berada di tempat. Libur. Tidak ada dokter lain yang bisa menggantikan menandatangani surat rekomendasi”.

“Senin pagi, dokter menyatakan Ibu siap dipindahkan. Kondisi Ibu, saat itu, mengalami pemburukan di paru-paru berdasarkan hasil rontgen thorax yang terbaru. Aku bersiaga menyertai pemindahan Ibu, di tengah kesimpangsiuran yang masih terus berlangsung. Awalnya RS mengatakan pemindahan Ibu tidak bisa menggunakan Ambulance dari RS tersebut. Harus menggunakan Ambulance dari Dinas Kesehatan. Ternyata, bisa. Kemudian mereka mempersilakanku menemani Ibu di dalam Ambulance. Ternyata, akhirnya, tidak diperkenankan. Jangankan sekadar mendekat, melihat dari jarak jauh saja aku dicegah. Mereka mengatakan Ibu akan keluar dari pintu A, ternyata mereka membawa Ibu keluar melalui pintu B. Semua hal itu membuatku berlari-larian dari ujung yang satu ke ujung lainnya berulang-ulang”.

“Entah bagaimana, aku bisa menemukan pintu tempat keluar Ibu menuju Ambulance, meskipun RS mengelabuiku. Tentu saja aku tidak dapat memandang wajah Ibu. Selain beberapa perawat dan petugas medis, seorang petugas keamanan juga menghalauku. Aku hanya mampu melihat tempat tidur Ibu didorong masuk ke dalam Ambulance yang langsung melesat pergi dengan sirene yang meraung-raung kencang”.

“Aku bergegas ke bagian depan RS mencari taksi yang, menurut pihak RS, sudah disediakan untukku. Ternyata tidak ada. Membuatku tergopoh-gopoh ke pinggir jalan untuk mencegat taksi. Akibatnya aku terlambat tiba di RS rujukan. Ketika aku sampai, Ibu sudah masuk ke dalam RS”.

“Meskipun sudah berada di dalam, Ibu masih berada di ruang transisi sebab kamar isolasi untuk Ibu sedang dibereskan. RS rujukan mempertanyakan mengapa pihak RS yang mengirim Ibu tidak memberi tahu mereka terlebih dulu sebelum memberangkatkan Ibu. Selain terlalu lelah, aku juga tidak tahu jawaban apa yang mesti kusampaikan”.

“Ibu belum berada di dalam kamar isolasi, tetapi aku jelas sudah tak bisa lagi menjumpainya. Aku mengurus semua administrasi. Di sini, aku sedikit berlega hati karena RS rujukan pemerintah terlihat lebih profesional dan berpengalaman. Semua informasi disampaikan transparan, detil dan jelas. Lembaran-lembaran formulir pun lengkap. Aku tinggal mengisinya saja. Selesai semuanya, aku kembali ke rumah. Melepas penat”.

“Malam harinya, pihak RS menelepon. Memberitahuku bahwa Ibu masuk ICU. Tentu saja aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ibu masih diperbolehkan membawa telepon genggam, karenanya aku bisa terhubung dengan Ibu. Lewat telepon, Ibu memohon padaku untuk bisa pulang. Aku berusaha membujuknya. Aku menghendakinya bersabar. Kukatakan bahwa keadaan di luar sudah kisruh dengan isu Covid-19. Ibu sudah mendapatkan tempat aman dan penanganan yang baik. Ibu diam saja mendengar perkataanku. Dari situ, Ibu tidak pernah lagi menuntut pulang”.

“Dibandingkan RS sebelumnya, komunikasi antara petugas medis di RS rujukan dengan keluarga pasien yang berada di ruang isolasi, sangat baik dan lancar. Semua permasalahan dijawab cepat. Jadwal kunjungan dokter pun diberitahukan dan keluarga diperkenankan bertemu serta berbicara langsung dengan dokter, bila diperlukan. Sayangnya, khusus untuk ruang ICU Covid-19, perawat yang bertugas hanya boleh masuk ke dalam saban 3 atau 4 jam sekali. Pasien benar-benar ditinggal sendirian. Aku sungguh paham bila Ibu merasa kesepian dan tidak nyaman”. 

“Di RS rujukan tersebut, Ibu menjalani test setiap 2 hari. Test kesatu dijalani Ibu hari Senin tanggal 23, setibanya Ibu di sana. Hasil test Ibu negatif. Dokter paru-paru pertama yang kutemui menyatakan bahwa kondisi Ibu bagus dan stabil.  Apabila hasil test selanjutnya juga negatif, maka Ibu bisa dinyatakan sembuh. Dokter paru-paru kedua yang berbicara denganku juga sependapat dengan koleganya. Menurutnya, Ibu menderita pneumonia pada usia lanjut. Ketika aku mengajukan pertanyaan apakah itu bukan virus Covid-19, dengan tegas dokter menjawab: bukan!”.

“Walaupun Ibu sudah dirawat di RS rujukan Pemerintah, daya upayaku mendapatkan hasil test Ibu dari RS sebelumnya tak putus. Pihak RS sebelumnya menyampaikan bahwa spesimen air liur Ibu sudah dikirim ke laboratorium di Lembaga Eijkman. Aku menelepon berkali-kali melalui layanan call centre di institusi itu, namun tidak pernah ada yang mengangkat”. 


Halaman Selanjutnya

“Beberapa teman dan kerabat memberi saran


Back to Top