Berduka dalam Sepi (Covid-19 Merenggut Ibuku)

Berduka dalam Sepi (Covid-19 Merenggut Ibuku)

Di jelang 2 bulan kepergian Ibundanya, sahabat saya mau membagi kisahnya ini. Kisah saat menyertai sang Ibu ‘bertarung’ melawan Covid-19. Virus ganas yang sedang merajalela di muka bumi.

“Barangkali ada yang bisa mengambil manfaat dari ceritaku”, ujarnya melalui sambungan telepon. 

“Sebenarnya aku tidak tahu persis kapan, tepatnya, semua ini bermula. Tapi, mungkin, berasal dari sebuah acara yang dihadiri Ibuku. Aku pun ada di sana menemaninya. Jadi, setelah Ayah meninggal akibat demensia, Ibuku aktif di forum komunikasi lanjut usia. Beliau kerap menyempatkan datang setiap kali menerima undangan. Di acara itu, beliau tampil bermain angklung dan menyanyi. Ibu selalu terlihat senang berkumpul dengan teman-teman seusianya”.

“Acaranya digelar hari Sabtu tanggal 7 Maret. Aku ingat betul, beberapa hari sebelumnya, tanggal 2 Maret, Pemerintah baru mengkonfirmasi kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Memang sudah banyak terdengar tentang virus ini di banyak negara. Tapi di Indonesia, waktu itu, rasanya masih belum menjadi ‘sesuatu yang dekat’ dengan kehidupan kita sehari-hari. Informasi belum terlalu jelas karena bercampur dengan hoax. Penjelasan yang tersedia dan tersebar di media hanya bersifat umum. Belum ada himbauan untuk menggunakan masker atau physical distancing. Baru sebatas ajakan agar rajin mencuci tangan. Sehingga berbagai kegiatan  berjalan seperti biasanya”.

“Terdapat sekitar 130 orang di acara hari Sabtu itu. Tanpa masker. Tanpa pengecekan suhu tubuh di luar gedung. Tidak ada jaga jarak sama sekali, meskipun sebagian besar yang datang sudah menghindari bersalaman. Semuanya nampak ‘normal’ dan wajar. Aku dan Ibu bahkan mampir ke Mal seusai acara. Mal pun penuh dengan pengunjung, sebagaimana lazimnya weekend”. 

“Jumat pagi, tanggal 13 Maret, aku menelepon Ibu. Mengingatkan bahwa hari itu kami harus pergi ke Kedutaan Jepang untuk apply Visa. Kami berencana pergi berlibur ke Jepang tanggal 29 Maret. Ingin melihat cantiknya bunga-bunga Sakura bermekaran. Tapi Ibu bilang sedang tidak enak badan. Tidak bisa tidur di malam hari. Alhasil, kami membatalkan pergi ke Kedutaan Jepang. Aku lalu menyarankan Ibu untuk pergi ke dokter. Ibu mengikuti saranku. Beliau pergi ke dokter, sore harinya. Aku tidak bisa mengantar Ibu karena seusai jam kantor, aku, suami dan kedua anakku pergi menginap di luar kota. Dua malam”.

“Minggu siang, setibanya di rumah, aku langsung menelepon Ibu. Menanyakan kabarnya dan memberitahu ada oleh-oleh dari luar kota untuknya. Ternyata Ibu masih mengeluh sakit. Aku menjadi khawatir. Aku memintanya tinggal bersamaku, sementara, agar aku bisa merawat Ibu. Minggu sore, aku menjemput Ibu. Malam harinya, aku menyadari bahwa badan Ibu terasa hangat. Cenderung panas. Aku memeriksa suhu tubuhnya. Sekitar 37.8 – 38 derajat C. Kekhawatiranku bertambah”.

“Esok paginya, Ibu melakukan cek darah di laboratorium. Cek darah berkala yang rutin dilakukan Ibu. Hasilnya bagus. Tapi badan Ibu masih panas dan Ibu belum bisa tidur”.

“Selasa malam, aku memutuskan membawa Ibu ke dokter spesialis penyakit dalam di sebuah Rumah Sakit. Ibu sudah mulai tersengal-sengal ketika bicara. Suhu tubuhnya belum stabil. Turun sebentar, kemudian panas lagi. Terlihat lemas dan terkadang batuk. Rumah Sakit mengijinkan Ibu beristirahat di IGD (Instalasi Gawat Darurat) sembari menunggu hasil observasi dari dokter. Di ruang IGD, Ibu diinfus karena tidak mau makan. Melihat kondisi  Ibu, aku menanyakan kemungkinan bagi Ibu untuk bisa dirawat di situ. Namun pihak RS tidak menyanggupi dengan alasan semua kamar penuh terisi dan Ibu menunjukkan gejala yang mengarah pada Covid-19. RS itu tidak punya ruang isolasi. Dokter spesialis penyakit dalam juga tidak dapat memberikan penanganan apapun. Hanya menyarankan agar aku segera memeriksakan Ibu ke dokter ahli paru-paru. Aku dan Ibu pulang tanpa solusi”. 

“Rabu pagi, 18 Maret, aku bersama Ibu mendatangi RS yang lebih besar. Sebuah RS ternama berstandar internasional. Protokol ketat mulai dijalankan sehubungan meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia. Kami melewati screening terlebih dulu di dalam tenda di area parkir, sebelum dapat masuk ke gedung RS. Entah bagaimana, tapi Ibu dinyatakan  dalam kondisi baik sehingga kami pun bergegas menuju ruang tunggu dokter ahli paru-paru. Jam menunjukkan jam 11 siang dan perawat memberi tahu kami bahwa dokter akan datang sekitar pukul 3 siang. Kami diminta menunggu 4 jam!”.

“Ibu mengeluh kedinginan. RS membolehkan Ibu berbaring di ruang kosong. Adanya rentang waktu yang cukup lama menanti kedatangan dokter, membuatku berinisiatif meminta RS melakukan foto rontgen thorax pada Ibu. Hasilnya: terlihat flek-flek pada paru-paru Ibu”. 

“Aku menunjukkan foto rontgen itu ke hadapan dokter ahli paru-paru. Setelah mempelajarinya, dokter mengatakan bahwa Ibu menderita pneumonia usia lanjut. Akan tetapi karena hal ini terjadi di tengah kondisi pandemi Covid-19, di mana keduanya memiliki kemiripan gejala, maka itu harus diduga sebagai Covid-19 sampai ada pemeriksaan lanjutan yang membuktikan bahwa itu bukanlah Covid-19. Dokter menghendaki Ibu menjalani CT Scan untuk paru-parunya. Setelah itu, Ibu kuantar pulang. Kami makan di kedai Soto Kudus dulu, sebelum sampai di rumah”.

“Setelah itu, aku kembali ke RS sendiri untuk mengambil hasil CT Scan. Dokter menjelaskan, GGO (Ground Glass Opacity) berupa bercak-bercak padat berwarna putih, tampak jelas di paru-paru Ibu”.

“Jadi saya harus bagaimana, dokter?”

“Maaf, Bu, mungkin Ibu bisa ke bagian informasi untuk memastikan ketersediaan ruang isolasi di IGD. Sekarang ini saya harus pulang untuk istirahat. Sudah lama saya tidak pulang”.

“Seketika ‘kegaduhan’ mencuat dalam diriku. Kegaduhan dari keriuhan pikiranku merangkai langkah-langkah yang harus aku kerjakan, bercampur informasi yang aku punya tentang Covid-19, ditambah ketidakjelasan yang terpampang di depan mataku. Aku sadar, aku mulai berlomba melawan waktu”.

“Setengah terbang, aku berlari ke bagian informasi. Aku langsung menelepon suamiku, memintanya sesegera mungkin membawa Ibu kembali ke RS, setelah aku beroleh kepastian bahwa ruang isolasi di IGD masih bisa menerima Ibu”.

“Saat melihat Ibu tiba di RS, aku katakan padanya bahwa mulai malam itu Ibu masuk ruang isolasi untuk dirawat dan diobservasi lebih seksama. Situasi di luar sangat tidak kondusif buat Ibu. Akan jauh lebih baik apabila Ibu mendapat pantauan langsung di RS. Ibu mengangguk-angguk”.


Halaman Selanjutnya

“Beberapa perawat mengantar Ibu masuk ke ruang isolasi


Back to Top