Awalnya Hanya Kancing

Awalnya Hanya Kancing

“Sejak kecil aku pasti ngambek setiap kali dibeliin baju. Karena pasti ada aja yang nggak sesuai dengan seleraku. Entah warnanya, modelnya atau motifnya”, tuturnya tergelak. “Aku baru boleh milih baju sendiri pas udah di SMP. Wah! Senang banget rasanya. Aku bebas berkreasi. Bebas cari gaya sendiri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gak ambil pusing dengan trend !”. Ia lalu mencontohkan pernah tampil percaya diri dengan rambut belah pinggir dan klimis saat banyak orang sedang tergila-gila berambut ala Daoming Si di serial Meteor Garden. “Pokoknya, suka-suka aku lah”. Logat Bataknya mengental. Tawanya menderas.

“Kapan kepikiran jadi desainer? Ketika aku bosen liat model baju yang hanya itu-itu saja di toko. Sayangnya untuk bikin baju sendiri pun aku belum pede”.

Rooibos Tea dingin diseruputnya. 

“Sampai suatu hari aku main ke rumah temenku. Iseng-iseng aku buka lemari bajunya. Ada satu baju yang membuat aku terpana. Kemeja biasa, sih, sebenernya. Standar. Baik warna maupun modelnya. Tapi deretan kancingnya sangat menarik buatku. Unik. Itu berarti si perancang sangat memperhatikan detil’, katanya lugas.

“Hari itu juga aku meyakini bahwa aku bisa menjadi desainer”.

“Aku mulai belajar mencari penjahit yang bagus. Bagus di sini, artinya, bisa menjahit dengan baik tentu saja, sekaligus dapat menerjemahkan isi kepalaku. Aku juga belajar agar ide-ideku tersampaikan secara komunikatif. Aku mulai sering memakai baju hasil rancangan sendiri. Aku pakai ke gereja. Ternyata banyak yang suka lalu minta dibuatkan baju serupa”, katanya sumringah.

Kesempatan terus terbuka lebar begitu ia terjun secara langsung menjadi pengarah gaya pada sebuah TV swasta di Jakarta.

“Sebagai fashion stylist, aku sering kelabakan untuk dapetin baju-baju yang sesuai buat si artis. Ada yang cocok tapi gak ada ukurannya. Ada yang ukurannya pas tapi gak cocok. Ruwet”.

“Jadilah aku coba-coba bikinin baju untuk si artis. Aku bikin one shoulder dress dengan warna hitam-putih. Hasilnya di luar dugaan. Si artis tak hanya memakai bajuku, namun juga membelinya”. Rasa bangga menyelimuti binar matanya.

Selebihnya adalah kisah melimpah warna-warni koleksinya dengan beragam tajuk. Mulai dari Nirwana Hawa sebagai rancangan pertama, Nostalgie sebagai rancangan pertama bernuansa hitam-putih, Spectrum sebagai rancangan paling laris (best selling), Hope in The Blue sebagai rancangan yang  terinspirasi dari keelokan Musim Gugur di Canada dan Sedjoli Kasmaran sebagai rancangan kombinasi Batik yang pernah diperagakan pada perhelatan Alun-Alun Indonesia 2016 di Burnaby, British Columbia, Canada.

Nostalgie
Spectrum
Hope in the Blue
Sedjoli Kasmaran

Pemilik Foto: Kley Klemens

Lebih memilih gunung dan hutan sebagai tempat relaksasi, mengisi waktu luang dengan menonton TV dan membuat sketsa baju, Kley Klemens yang lahir tanggal 16 Juli, masih punya sejuta keinginan. Ingin mengaktifkan lagi bisnis online-nya, ingin melanjutkan merancang baju Batik yang cool sehingga bisa dipadu padan dengan sneakers, bahkan ingin mendandani Michelle Obama, tokoh yang dikaguminya, seumpama ada kesempatan.

“Aku akan mendandaninya dengan baju model off shoulders berwarna kuning dengan ruffle di bagian dada serta bagian bawah menyempit, menyematkan anting-anting berbentuk bulat bertahta berlian dengan batu emerald, tatanan up do hair untuk rambut ikalnya dan menyediakan royal blue 4 inches heels untuk sepatunya. Sehingga sisi intelligent dan sophisticated-nya semakin menonjol sembari tetap menjadi dirinya sendiri”.

“Lalu aku akan mengajaknya juga makan Orek Tempe Kering dan Balado Ikan Teri Medan kesukaanku. Hahaha”. 

Keinginan yang bukan mustahil terwujud.

Selamat Ulang Tahun, Kley!

Kembali