10 Days of Butterflies, Coffee and Pie (Kado Natal Buat Asakura)

10 Days of Butterflies, Coffee and Pie (Kado Natal Buat Asakura)

Ini sebuah cerita tentang dunia maya. Dunia kecil buatan manusia yang, bagi sebagian orang, hanya omong kosong, penuh bualan, dan kepalsuan. Namun tidak untuk orang-orang yang berada di dalamnya. Paling tidak untuk para gamer, dunia kecil kami ini pastilah penuh  arti.

Saya mencoba menuliskannya layaknya buku harian agar menjadi kenang-kenangan sepanjang masa. Terutama jika, suatu saat, game ini sudah tidak ada lagi.

Adalah sebuah Massive Multiplayer Online Role Playing Game (MMORPG) bernama Ragnarok X Next Generation (RoX)  yang rilis di pertengahan tahun 2021. Ragnarok versi kesekian kalau dihitung dari versi pertama tahun 2003. Muncul di tengah masa pandemi, permainan ini cukup ampuh jadi hiburan para gamer yang harus berdiam di rumah.

Sebagai pemain lama, awalnya saya enggan untuk kembali “melangkahkan kaki” ke dunia kecil ini lagi. Sudah bertahun-tahun saya tinggalkan permainan semacam ini. Sudah cukup rasanya, dulu, saya hidup di dua dunia selama 5 tahun. Dunia  nyata  dan dunia  maya di dalam Ragnarok (RO). Dengan semua kenangan sedih dan senangnya, yang  sampai sekarang, menempati ruang khusus di hati saya. Saya malas memulainya dari awal. Apalagi di saat usia saya sudah tidak muda, selain beberapa kesibukan yang meminta perhatian khusus. 

Sudahlah.

Sampai di suatu hari, adik saya memberi tahu, “Mbak, RO baru ini gambarnya keren, deh! Beda sama yang lama. Mainnya juga nggak susah,” katanya sangat antusias. Saya menggelengkan kepala, “Udah nggak tertarik!” 

Adik saya bertahan. Barangkali karena dia tahu betul betapa sukanya saya pada game ini. Jadilah dia tetap ngotot mempromosikan. Saya jelas semakin mati-matian menolak. Namun dia sepertinya yakin saya bakalan goyah, karena tiba-tiba saja tanpa sepengetahuan saya, RoX telah rapi ter-install dalam komputer milik saya. Sambil nyengir, dibukanya game itu di depan mata saya bersamaan dengan dia membuat karakter untuk dirinya sendiri. Maka terpampanglah tampilan game itu yang, mesti saya akui, teramat menarik. 

Mendadak semua kenangan menjelma film yang diputar ulang dalam kepala saya.

Sebelumnya, saya kasih gambaran sedikit tentang game ini, ya.

Ragnarok diibaratkan negeri dongeng dengan banyak kota di dalamnya. Prontera, Morroc, Payon, Izlude, Alberta. Itu sebagian nama-nama kotanya. Setiap  kota punya ciri khas dan backsound masing-masing.

Midgard, begitu kami menyebut dunia dongeng ini. Midgard  dikelilingi pegunungan, hutan, dan  goa, di mana penghuni semua tempat itu dinamakan Monster. Punya ukuran berbeda juga tingkat kesulitan beragam untuk mengalahkannya.

Ketika memasuki  Midgard, pemain boleh memilih salah satu dari profesi yang tersedia. Ada Magician (Wizard) yang menyerang musuh dengan kekuatan sihirnya. Ada juga Merchant (Blacksmith) yang bertugas membuat ransum dan menjualnya ke pemain lain. Lalu ada Thief (Assassin)  yang memiliki kecepatan menyerang menggunakan pisau. Selanjutnya ada Swordman (Knight)  yang merupakan profesi terkuat di Midgard karena kelihaiannya menyerang dari jarak dekat menggunakan tombak. Ada Archer (Hunter)  yang mahir memanah. Terakhir, ada Acolyte (Priest) yang berperan melindungi dan menyembuhkan karakter lain di dalam battle sekaligus mampu menyembuhkan dirinya sendiri sehingga membuatnya sanggup bertahan dari serangan musuh. Setiap profesi memiliki kelebihan dan kekurangan yang membuat semuanya saling melengkapi satu sama lain.  Maka dalam pertempuran, kami diijinkan membuat grup berawak 5 karakter yang kami sebut dengan istilah Party. Kami juga bisa membuat Guild dengan teman-teman terdekat karena RoX ini beranggotakan gamer dari beberapa negara di Asia Tenggara.

Selain bertempur melawan Monster, di RoX ini ada sejumlah kegiatan yang berbeda dari game versi sebelumnya. Semisal Gardening, Fishing serta Mining di mana hasil perolehannya bisa dijual melalui Exchange Center untuk mendapatkan uang utama yang disebut Crystal. Bisa juga dijual melalui Merchant guna mendapatkan Zeny,  mata uang kedua. Crystal dan Zeny berguna untuk membeli bahan makanan sebagai bekal bertempur atau Equipment penunjang pertempuran. Begitulah gambaran kehidupan di Midgard

Perbedaan lain yaitu fasilitas Trade yang tidak ada pada RoX. Padahal  dengan menu Trade, setiap karakter bisa memberi dan menerima apapun dari karakter lain. Oleh karenanya dalam RoX ini, dipastikan setiap pemain harus membangun karakternya secara mandiri. Berjuang dengan caranya masing-masing untuk mencapai karakter sempurna.

Setelah terpampang lebar di depan mata, mana mungkin saya tidak mempelajari seluk beluk RoX

Saya menyerah. Pasrah. Alih-alih bertahan, saya malah meraih  mouse. Klik. Saya mendaftar. Adik saya terbahak-bahak puas. Merasa menang telak melihat saya mendaftar, lalu sibuk memilih model  rambut, mata, nama, dan tentu saja, profesi.

Baca juga:  Enigma Batas Hidup Manusia

Dari dulu sampai sekarang, dan mungkin sampai nanti,  saya selalu dan akan memilih profesi Acolyte. Saya senang hunting sendirian, maka menjadi Acolyte memungkinkan saya terus bertahan dalam pertempuran karena saya sanggup menyembuhkan diri sendiri.

Acolyte milik saya harus terlihat cantik.  Saya namai dia Pumpkin Pie

Pumpkin Pie atau Pie panggilannya. Gadis bermata biru dan  bulat. Rambutnya hitam lebat dikuncir dua. Berhasil memikat banyak karakter lain. Tak sedikit ingin berdekatan dengannya. Bukan hanya tertarik bahkan jatuh cinta. Bukan hanya di dunia maya bahkan di dunia nyata pun demikian.

Pie adalah gadis ramah, penolong dan murah hati. Apapun yang mungkin dikerjakan  untuk menolong sesama, pasti akan dijalankannya. Apabila pertolongan itu harus mengorbankan modalnya dalam membangun karakter, selagi bisa, sudah pasti dilakukan. Semua harus bahagia, itu yang terpenting. Demikian pikir saya sebagai orang di balik karakter Pumpkin Pie.

Sebagaimana dunia nyata, kehidupan di Midgard juga punya sisi keras. Jadi harus ada orang-orang yang bermain pakai hati. Di saat ada pemain memaki pemain lain yang dianggap lemah, Pie memilih hadir mendampingi. Di saat ada pemain acuh terhadap kesulitan pemain lain yang masih berada di level rendah, Pie memilih meluangkan waktu untuk memberi bantuan. Begitu pun saat Gardening. Jika ada pemain lain merebut bunga yang akan dipetiknya, maka Pie lebih memilih menegurnya baik-baik.

Tak disangka, itulah yang terjadi pada bulan ketiga penjelajahan Pie di Midgard

Pie gemar sekali memetik bunga Arcane yang  berguna mengasah Equipment agar lebih kuat dipakai bertempur. Banyak sekali pemain memerlukannya.  Jadi harga jualnya pun cukup tinggi.

Bunga Arcane tumbuh di pegunungan Mojlnir dan hutan Labyrinth. Tumbuhnya tidak setiap saat.  Para pemain harus rajin mengecek waktu pertumbuhannya. Hanya ada 6 titik tumbuh saja di pegunungan Mojlnir. Bisa dibayangkan, betapa tempat-tempat tersebut langsung disesaki para pemain menjelang  bunga Arcane tumbuh. Terutama di saat gerimis yang membuat bunganya melimpah ruah. Sebenarnya, saat gerimis, tidak perlu berebut sebab semuanya pasti akan kebagian.

Hari itu malam menjelang larut di dunia nyata. Tidak gerimis pula di Midgard. Pasti sepi di lokasi tumbuhnya bunga Arcane. Pikir saya. Saya menjejakkan kaki di situ. Perkiraan saya tepat. Cuma ada Pie dan … sesosok Assassin.

Saya tidak menghiraukannya. Saya mengambil 1 spot dan membiarkan si Assassin menguasai 2 spot sekaligus. Tak apalah.  Saya bisa memetik lebih banyak lagi sewaktu gerimis. Namun rupanya si Assassin ini sungguh menjengkelkan. Dia bisa buru-buru mengambil bunga di spot saya yang cuma 1 itu saja manakala saya agak lambat memetik. Wah! In real life, sudah jelas, saya akan berteriak memaki. Di game, saya memilih menegurnya baik-baik. 

Saya intip namanya. Good Coffee 23 (Coffee). Cowok. Nostalgia jadi nama Guild. Berarti dia orang Indonesia, tebak saya dalam hati.  Saya klik PM di nama itu.

“Metiknya seru amat, sih, Mas?”

“… ?????? …”

“Oh… You’re not Indonesian?” Saya cepat menukas melihatnya tidak menjawab.

“Indonesia, kok.”

“Huh … !!!” Nyebelin!

“Maaf, ya, tadi aku sempat ambil bunga kamu.”

“Iya! Curang kamu! … Tapi ya, udah lah nggak apa-apa. Udah terlanjur.”

Lalu kami sama-sama memberikan emoticon tertawa. Kata maaf yang diucapkannya, mencairkan suasana. Kami berkenalan. Menanyakan nama asli, sudah pasti. Namun saya tetap menyebut Pie sebagai nama asli saya. Buat saya, game is game. Tidak perlu memberikan nama asli di usia perkenalan yang baru beberapa detik. 

Obrolan tentang real life sesuai kelaziman berlanjut. Kerja di mana? Kegiatan sehari-hari apa? Kalau seru, bisa diteruskan panjang lebar tapi, tentu saja,  biasanya tidak semudah itu menemukan teman yang bisa langsung bersinambung.

Coffee. Akhirnya saya memanggilnya demikian. Ternyata teman baru yang enak diajak ngobrol. Pekerjaan saya di bidang seni, dan dia yang bekerja di tempat anak muda nongkrong, menggiring kami asyik membahas banyak hal dalam waktu singkat. Maka kami saling mendaftarkan nama kami sebagai teman dan bersamaan setelahnya,  bunga Arcane berhenti tumbuh. Kami berpisah. Melanjutkan kegiatan kami masing-masing.

Bye, Coffee, sampai ketemu lagi di Arcane.”

Yes. Take care, Pie!”

Hari itu berakhir. Berkesan, tapi tidak terlalu istimewa. Cenderung biasa saja. Seperti bertemu pemain lainnya.


Halaman Selanjutnya

Ya. Tidak terlalu istimewa. Karenanya, sama seperti kebiasaan saya…


Back to Top